oleh

Filolog FIB UNS dan Dinas Arpus Kabupaten Sragen identifikasi dan digitalisasi naskah bersejarah di Kantor Desa Gondang.

-Daerah-95 views

INDONNESIANEWS (Sragen)– Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Sragen gencar menyelamatkan naskah-naskah tua bernilai sejarah. Kali ini, Arpus Sragen turun langsung ke Kantor Desa Gondang, Kecamatan Gondang, untuk mengidentifikasi dan mendigitalisasi dokumen kuno. Kegiatan ini menggandeng Asep Yudha Wirajaya, dosen Filologi Fakultas Ilmu Budaya UNS, sebagai ahli.

Langkah ini diambil bukan cuma buat arsip doang. Tujuannya jelas, bikin masyarakat makin sadar kalau naskah kuno itu warisan budaya penting. Isinya juga sumber informasi sejarah yang berharga banget buat anak cucu nanti. Kalau nggak dijaga sekarang, bisa hilang ditelan waktu.

Dari hasil penelusuran tim, ditemukan beberapa dokumen bersejarah milik Desa Gondang. Yang paling menarik ada catatan pajak bumi atau pajak tanah tahun 1934. Uniknya, sistem bayar pajak zaman dulu ternyata pakai emas. Selain itu, tim juga nemu Letter C tahun 1964 yang isinya data kepemilikan tanah warga lengkap dengan denah, luas bidang, dan harga jual tanah saat itu. Nggak ketinggalan ada Letter C tahun 1973 dan berbagai arsip kependudukan lain.

Meski banyak dokumen yang ditemukan, tim cuma mendigitalisasi dua naskah prioritas pada Kamis (11/06/2026). Dua naskah itu adalah pajak tanah tahun 1934 dan Letter C 1964. Alasannya simpel, karena umurnya paling tua dan nilainya paling tinggi secara historis. Proses digitalisasi ini didokumentasikan oleh Arifia Balqis Amalia Huda.

Dengan didigitalisasi, naskah kuno ini jadi lebih aman dari kerusakan fisik kayak lapuk atau dimakan rayap. Salinan digitalnya juga bikin akses jadi gampang. Peneliti, mahasiswa, sampai masyarakat umum bisa lihat isinya buat kepentingan riset atau bahan belajar tanpa harus pegang dokumen aslinya.

Lewat kerja sama Arpus Sragen dan UNS ini, warisan sejarah Desa Gondang diharapkan tetap lestari. Nggak cuma jadi tumpukan kertas di lemari, tapi bisa dimanfaatkan jadi sumber pengetahuan yang hidup buat generasi sekarang dan mendatang. (*/Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *