oleh

Revitalisasi Keraton Surakarta Kemendikbud Kucurkan 150 Miliar

-Daerah-34 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Revitalisasi besar-besaran Keraton Solo akhirnya jalan. Kementerian Kebudayaan siap mengucurkan dana Rp 150 miliar untuk membenahi 13 kawasan di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dengan target kelar akhir 2026.

Hal itu diungkapkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat berkunjung ke Keraton Solo, Rabu (23-9-2026). Ia menyebut angka Rp 150 miliar itu sudah final dan pengerjaannya dikebut tahun ini, walaupun tidak menutup kemungkinan ada perpanjangan waktu.

Menurut Fadli, proyek ini bukan proyek biasa, melainkan arahan langsung Presiden untuk menyelamatkan aset budaya bangsa. Tidak hanya keraton, istana, dan museum di seluruh Indonesia juga masuk dalam agenda revitalisasi nasional.

Dari 13 titik yang dibenahi, salah satunya adalah kantoran dalem. Nantinya kantor tersebut akan dipakai oleh KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sesuai mandat SK Menteri Kebudayaan No 8 Tahun 2026 sebagai pelaksana pelindungan kawasan cagar budaya.

Daftar lengkap 13 titik itu adalah Pagelaran, Sitinggil Lor, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Bidono, Keraton Kilen, Keputren, Ndalem Ageng, Kamandungan, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Panggung Songgo Buwono, dan Sinorenggo. Luas area yang digarap untuk Keraton Kilen saja mencapai 2 hektare.

Fadli menegaskan pemerintah tidak mau kerja sendirian. Skema pembiayaan akan menggabungkan APBN dengan duit swasta lewat KPBU. Tujuannya agar revitalisasi tidak mandek karena keterbatasan anggaran negara.

Buktinya, Gedung Songgobuwono yang sudah selesai lebih dulu justru dibiayai korporasi. Pola public private partnership ini yang akan terus dipakai untuk titik-titik lain di keraton.

Sambil bangun fisik, pemerintah juga sudah mikirin nasib keraton setelah jadi. Fadli bilang pengelolaannya harus profesional, tidak bisa dikelola secara tradisional saja. Saat ini Pemkot Solo, pemerintah pusat, dan keluarga keraton sedang merumuskan bentuk lembaganya, apakah yayasan atau model lain.

Ia mengakui 13 titik ini belum membuat seluruh keraton kinclong 100 persen, tapi sudah mencakup 90 persen bagian yang paling rusak. Maklum, sentuhan besar terakhir di keraton ini sudah 40 tahun lalu, jadi banyak yang sudah lapuk.

Bagi KGPH Tedjowulan sendiri, yang paling penting saat ini ia sudah punya kantor sementara untuk berkoordinasi dengan dua figur Paku Buwono XIV. Ia berjanji akan merangkul generasi muda keraton untuk paham tupoksi dan hak-kewajibannya, dengan target 8 tahun ke depan Keraton Solo bisa bangkit sesuai harapan pemerintah dan menjadi magnet wisata budaya, sejarah, religi, dan kuliner di Nusantara.

Sementara itu Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, GKR Koes Moertiyah Wandansari, mengatakan Kondisi Keraton Solo saat ini diakui sudah memprihatinkan.

Wanita yang akrab disapa Gusti Moeng itu mengatakan, 13 titik yang masuk dalam daftar revitalisasi Kementerian Kebudayaan memang dalam keadaan rusak parah dan sudah lama tidak tersentuh perbaikan besar.

Karena itu, pihaknya menyampaikan apresiasi tinggi kepada pemerintah. Menurut Gusti Moeng, perhatian Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Kebudayaan menjadi angin segar bagi kelestarian keraton.

Gusti Moeng mengaku LDA telah melakukan pendataan awal secara mandiri. Seluruh sudut keraton yang bocor, lapuk, dan rusak sudah difoto sebagai arsip sebelum proyek Rp 150 miliar itu dimulai.

Langkah itu, kata dia, penting agar perbaikan tepat sasaran. Apalagi kerusakan atap biasanya baru ketahuan total saat musim hujan datang.

“Keraton pastinya memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk Pemerintah Indonesia, Bapak Presiden Prabowo yang sudah memerintahkan Pak Menteri Kebudayaan untuk merevitalisasi Keraton, karena memang keadaannya sudah sangat memprihatinkan,” ujar Gusti Moeng. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *