oleh

Bleketepe dan Adang Sepisan Tandai Kesiapan Mangkunegaran Gelar Dhaup Ageng Gusti Sura dan KPH FX Adima

-Daerah-40 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Pura Mangkunegaran menggelar rangkaian adat pemasangan Bleketepe, pembukaan Singup Tuwuhan, dan Adang Sepisan pada Rabu (4-11-2026). Rangkaian ini menjadi tanda kesiapan keluarga menyambut Hajad Dalem Dhaup Ageng http://G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo dengan Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.

Prosesi ini diikuti S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X bersama G.K.P. Mangkoenagoro IX dan sederek dalem. Prosesi pemasangan Bleketepe dan pembukaan Singup Tuwuhan digelar di Bangsal Tosan, sementara Adang Sepisan berlangsung di Jayengan atau Pawon Ageng.

“Tiga prosesi dilaksanakan secara berurutan pagi ini, yaitu pemasangan Bleketepe, pembukaan Tuwuhan, dan Adang Sepisan,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, http://R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti.

Bleketepe merupakan anyaman daun kelapa yang dipasang di bagian depan sebagai penanda dimulainya hajatan sekaligus simbol perlindungan. Setelah pembacaan ujub dan doa, S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X menyerahkan Bleketepe secara simbolis kepada abdi dalem untuk dipasang di Bangsal Tosan.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Singup Tuwuhan oleh G.K.P. Mangkoenagoro IX. Tuwuhan yang tersusun dari tanaman dan hasil bumi, melambangkan doa bagi pertumbuhan, kesuburan, serta kehidupan baru yang baik bagi kedua temanten.

Menurut Ayu, pemasangan Bleketepe dan Tuwuhan bukan sekadar persiapan tempat, melainkan doa dan harapan keluarga yang mengiringi Gusti Sura dan Kanjeng Dimas dalam memasuki kehidupan rumah tangga.

*Adang Sepisan Tandai Kesiapan Menjamu Tamu*

Usai prosesi di Bangsal Tosan, keluarga menuju Jayengan atau Pawon Ageng untuk melaksanakan Adang Sepisan. Dipandu oleh http://R.Ay.T. Anna Hoedoko, S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X bersama G.K.P. Mangkoenagoro IX menuangkan beras ke dalam dandang sebagai awal tata cara menanak nasi untuk pertama kalinya dalam rangkaian hajatan.

Adang Sepisan menggunakan dua piranti masak pusaka Mangkunegaran, yakni Nyai Dandang dan Nyai Sumyang. Dalam Dhaup Ageng yang kembali diselenggarakan Mangkunegaran setelah 18 tahun, penggunaan kedua piranti tersebut menghubungkan hajatan keluarga hari ini dengan tata cara yang diwariskan lintas generasi.

“Di dapur, kami memiliki piranti masak pusaka, yaitu Nyai Dandang dan Nyai Sumyang. Keduanya secara khusus digunakan dalam rangkaian Dhaup Ageng,” kata Ayu.

Adang Sepisan dimaknai lebih luas dari sekadar kegiatan memasak. Prosesi ini menjadi simbol kesiapan keluarga dalam menyelenggarakan hajatan, menerima para tamu, dan berbagi jamuan sebagai bagian dari keramahan Mangkunegaran.

“Ini menjadi perlambang bahwa kami siap menerima tamu dan menyelenggarakan Dhaup Ageng,” ujar Ayu.

Rangkaian adat pada 4 November ini dijadwalkan berlanjut pada sore hari dengan prosesi Nyantri, yaitu penerimaan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian beserta keluarga oleh keluarga calon temanten putri. Tahapan ini menjadi bagian penting dari pertemuan dua keluarga menjelang prosesi pernikahan. (*/Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *