oleh

Bapperida Klaten Gelar Forum Penguatan Inovasi Desa melalui KKN Mbangun Desa

-Daerah-21 views

INDONNESIANEWS (Klaten)–Forum Kolaborasi Penguatan Inovasi Desa melalui KKN Mbangun Desa untuk Meningkatkan Daya Saing Desa digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Klaten di Pendopo Kabupaten Klaten, Selasa (22-9-2026).

Forum yang mempertemukan OPD, para kades, dan perguruan tinggi mitra tersebut menghadirkan narasumber utama Guru Besar dan Dosen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, M.Si., Dosen Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, serta mantan Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Sutanto, S.Si., DEA., dan Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), Budi.

Di hadapan para kades, Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, http://M.Si. memaparkan kinerja pembangunan terkini Klaten dengan pertumbuhan ekonomi 5,7 persen pada 2023, persentase penduduk miskin 11,00 persen pada 2025, kemiskinan ekstrem 0,25 persen, dan UMK Rp2,39 juta.

Ia mencatat penurunan kemiskinan 1,04 poin dalam setahun menjadi 11 persen pada 2025 merupakan penurunan terbaik pasca pandemi, dengan target Pemkab menurunkan sekitar satu poin per tahun.

Kantong kemiskinan masih terkonsentrasi di wilayah padat penduduk seperti Kecamatan Trucuk dan Bayat, sementara struktur ekonomi daerah masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan sektor pertanian.

Menurutnya penurunan kemiskinan yang hanya mengandalkan bantuan sosial akan melambat sehingga mesin berikutnya harus didorong dari pendapatan usaha desa, apalagi sektor pertanian yang dominan justru menyimpan peluang besar pada nilai tambah pascapanen.

Ia juga memaparkan status kemandirian desa dimana rata-rata Indeks Desa Membangun Klaten naik dari 0,6854 pada 2020 menjadi 0,7286 pada 2024 yang artinya bergerak dari kategori Berkembang mendekati batas Maju, meski sempat turun di 2021 akibat pandemi.

Kenaikan IDM yang hanya sekitar 0,011 poin per tahun dinilai akan membuat lompatan menuju kemandirian berjalan lambat, apalagi mulai 2025 nomenklatur pengukuran berganti menjadi Indeks Desa sehingga perlu penyesuaian baseline.

Untuk itu ia merekomendasikan agar Klaten menetapkan desa prioritas berbasis klaster potensi mulai dari Trucuk dan Bayat, menyusun pedoman daerah tentang KKN Mbangun Desa yang terintegrasi ke Musdes dan RKPDes, membentuk sekretariat bersama inovasi desa di Bappedalitbangda, membangun satu basis data potensi desa yang terbuka, menjalankan bursa inovasi tahunan dengan komitmen replikasi, serta mengarahkan penguatan BUM Desa pada hilirisasi produk unggulan dengan kemitraan pasar yang disiapkan sejak awal.

Sementara itu, Dosen Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, serta mantan Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Sutanto, S.Si., DEA. menekankan KKN Mbangun Desa harus menjadi laboratorium inovasi yang melahirkan prototipe usaha, bukan sekadar program fisik.

Menurutnya mahasiswa harus membantu desa bertransformasi dari menjual gabah menjadi beras premium kemasan, dari gerabah mentah menjadi souvenir bernilai jual, serta dari wisata mampir menjadi paket wisata menginap yang memperpanjang lama tinggal wisatawan.

Perwakilan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), Budi, menegaskan pihaknya siap mengkoneksikan klaster unggulan Klaten dengan program pemasaran dan inovasi di tingkat provinsi.

Ia menyebut potensi seperti Rojolele Srinuk, lurik Pedan, batik Bayat, gerabah Melikan, payung Juwiring, dan wisata umbul di Polanharjo sangat relevan untuk dikolaborasikan dalam penguatan kebudayaan dan ekonomi kreatif. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *