INDONNESIANEWS (Klaten)–Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin Asyrofi menegaskan tokoh lintas agama punya peran strategis dalam membangun kesadaran umat untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kawasan resapan air. Menurutnya, persoalan air tidak hanya soal teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual yang perlu disampaikan lewat pendekatan keagamaan.
Hal itu disampaikan Syamsuddin dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema “Menjaga Ketersediaan Air dan Ikhtiar Menyelamatkan Lingkungan Hidup untuk Kesejahteraan Masyarakat” di RM. Banyu Urip Klaten, Kamis (17-9-2026). FGD tersebut hasil kolaborasi Multi Stakeholder Forum (MSF) Pusur dengan PERSEPSI, FKUB, dan AQUA Kabupaten Klaten.
Syamsuddin menjelaskan, penjagaan air harus dilakukan secara utuh dari hulu, tengah, hingga hilir. Di wilayah hulu, masyarakat perlu diajak menjaga mata air, hutan, mencegah alih fungsi lahan, serta menggalakkan gerakan tanam pohon dan pembuatan sumur resapan.
Sementara di wilayah tengah, fokusnya pada menjaga kebersihan sungai dan saluran air dari sampah serta edukasi hidup hemat air. Adapun di wilayah hilir, yang perlu dijaga adalah tangkapan air agar tetap berkelanjutan untuk pertanian, kebutuhan rumah tangga, dan kesejahteraan masyarakat.
“Jika kesadaran ini disampaikan oleh tokoh agamanya masing-masing, baik di masjid, gereja, pura, wihara, maupun klenteng, maka pesannya akan lebih masuk ke hati. Menjaga air adalah bagian dari ibadah, menjaga bumi adalah amanah Tuhan,” ujar KH. Syamsuddin.
Senada, pihak MSF Eko Mardiyono mengatakan menjaga air berarti menjaga hutan, tanah, perilaku masyarakat, dan masa depan. Ia menekankan pendekatan hulu-tengah-hilir tidak bisa parsial, karena jika satu rantai putus maka semuanya terdampak. Menurutnya, pesan lingkungan akan lebih mengakar jika disampaikan lewat mimbar rumah ibadah dibanding sekadar imbauan pemerintah.
FGD yang dihadiri pengurus FKUB, MSF, PERSEPSI, dan tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha ini juga menghadirkan narasumber dari KOPERNIK Bali, Malvin Heraldo Napitupulu yang berbagi pengalaman tentang Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) di DAS Ayung Bali. Acara ditutup dengan komitmen bersama menjadikan rumah ibadah sebagai pelopor gerakan ramah lingkungan dan hemat air, dengan pesan utama “Merawat Air adalah Ibadah”.














Komentar