oleh

Pentas Seni “Timbang Turu Sore” di Klaten Dihadiri PB XIV, Hidupkan Regenerasi Karawitan

-Budaya-38 views

INDONNESIANEWS (Klaten)–Sebuah kegiatan budaya bertajuk Pentas Seni Rakyat “Timbang Turu Sore” digelar di Bale Agung Koripan, Desa Segaran, Klaten, Jumat (18-9-2026) malam. Kegiatan itu digagas seniman setempat Agung Bakar Setiyoko.

Acara dimulai usai Maghrib. Tampil berturut-turut yakni seni Jathilan dari Kayoman Socokangsi Jatinom, dan kesenian tari Topeng Ireng. Selama sekitar 1 jam mereka menghibur masyarakat atau pengunjung yang memenuhi lokasi untuk menyaksikan pertunjukan yang dibawakan sejumlah orang tersebut.

Setelah berakhir, dilanjutkan di panggung khusus berupa pertunjukan sejumlah kelompok Karawitan. Pertama oleh Karawitan anak dari Sanggar Pamor Kartasura Sukoharjo. Dengan penuh percaya diri, anak-anak tersebut tampil membawakan gending-gending tradisional. Meski usia masih belia, tabuhan gamelan mereka terdengar kompak dan harmonis diiringi vokal sinden cilik yang merdu. Penampilan mereka yang berlangsung sekitar 15 menit itu mendapat apresiasi meriah dari penonton sebagai wujud nyata regenerasi seni karawitan.

Sesaat tampilan berakhir, tamu dan masyarakat yang hadir dikejutkan dengan kehadiran Raja Keraton Surakarta PB XIV. Kehadirannya disambut tuan rumah Agung Bakar dan tamu undangan lainnya.

Penampilan selanjutnya dari kelompok Karawitan Sanggar Condro Lukito dari ibu-ibu RT 01 RW IV Desa Segaran. Selama kurang lebih 15 menit mereka pun menunjukkan kepiawaiannya dalam menggunakan alat musik gamelan. Dengan kekompakan dan penghayatan, para ibu-ibu tersebut berhasil menyajikan alunan gending yang lembut namun bertenaga, membuktikan bahwa semangat melestarikan budaya tidak mengenal usia dan tetap hidup di lingkungan warga.

Penampilan ketiga dari kelompok Karawitan Sanggar Ngudi Bedoyo dari Kranggan. Disusul penampilan Karawitan “Reog n Roll” dari Desa Segaran. Sebuah bentuk inovasi atau kreasi seni lokal terpadu yang memadukan keindahan musik tradisional gamelan (karawitan) dengan energi modern, yang melibatkan belasan orang pemain dan penyanyi. Agung Bakar memimpin jalannya tampilan yang memukau semua yang hadir selama sekitar 15 menit.

Di hadapan semua yang hadir, Agung Bakar mengatakan acara itu digelar untuk memajukan dan melestarikan kebudayaan khususnya Karawitan dan Pedalangan.

Tentang Pentas Seni Rakyat, seperti filosofi acara “Timbang Turu Sore” kata dia, ayo kita menyaksikan kesenian, ayo berkesan, ayo berkebudayaan itu yang terpenting. “Dan di tempat ini, tempat baru kita, Sinuhun (PB XIV) ini adalah Bale Agung Koripan, sekarang kita punya tempat namanya Kebon Segaran. Segaran itu Seni dan Pagelaran, jadi ini Kebon untuk berkesenian dan kegiatan untuk Pagelaran,” ujarnya.

Tambah dia, di tempat itu nanti rencana akan dibuat kegiatan rutin dan berharap adanya kerja sama dengan Keraton Surakarta untuk sama-sama melestarikan dan memajukan kebudayaan yang kita cintai seperti Pedalangan, Karawitan dan kesenian yang lain. “Tadi sudah rasan-rasan dengan Sinuhun untuk siapa tahu nanti kita bisa berkolaborasi bersama dengan Keraton Surakarta untuk sama-sama melestarikan dan memajukan kebudayaan yang kita cintai yaitu Pedalangan, Karawitan dan kesenian yang lain,” tuturnya.

Kata Agung Bakar lagi, ini menjadi komitmen penting dari Bale Agung Koripan untuk senantiasa melestarikan dan menjaga seni dan kebudayaan yang kita miliki jangan sampai hilang. “Generasi kita harus kenal, generasi kita harus tahu apa yang dimiliki, apa yang sudah diberikan leluhur kita yaitu kesenian tradisional Karawitan dan Pedalangan,” tutupnya.

Sinuhun PB XIV Hangabehi dalam kesempatan sama mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan tradisi seni dan budaya yang digelar di Desa Segaran, karena bisa melakukan regenerasi di bidang Karawitan untuk generasi ke depan mulai dari anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak.

Seni Karawitan, kata Sinuhun Hangabehi, termasuk budaya yang harus kita lestarikan terus-menerus. “Saat saya beberapa kali berada di Eropa, masyarakat mancanegara malah banyak yang belajar budaya Jawa khususnya tradisi Pedalangan, Karawitan lalu seni tari dan lain-lainnya,” ujarnya.

Karena itu, tambah Sinuhun Hangabehi, kita jangan sampai kalah menjaga budaya tetap lestari sampai akhir zaman. “Di Keraton sendiri kita juga terus memperjuangkan eksistensi, terus melestarikan budaya tradisi khususnya seperti Karawitan, Pedalangan juga seni tari,” tegasnya.

Kegiatan Pentas Seni Rakyat “Timbang Turu Sore” ditutup dengan Pagelaran Wayang Kulit dari siswa SMK Negeri 8 atau SMKI Surakarta. Pertunjukan dimulai dengan pemberian 3 gunungan wayang masing-masing oleh PB XIV Hangabehi, Agung Bakar dan Ki Bayu Aji kepada 3 dalang muda yakni Prasya Bagus Utama, Gabriel Sanata Putra Budi Utomo dan Muhammad Fahrur. Dalam tampilannya, ketiganya akan membawakan lakon berjudul Sri Mulih dan Gondomono Luweng. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *