oleh

Tasyakuran Bersih Sendang Sinongko Klaten, Ribuan Warga Makan Bersama

-Budaya-40 views

INDONNESIANEWS (Klaten)–Puncak acara Kirab Budaya, Pemerintah Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, menggelar Tasyakuran Bersih Sendang Sinongko, Jumat (4-9-2026) siang.

Dalam acara tersebut, Pemdes Pokak bersama warga menyembelih sekitar 26 ekor kambing. Dagingnya kemudian dimasak dan disantap bersama-sama di akhir acara sebagai wujud syukur dan kebersamaan.

Acara dimulai sekitar pukul 13.30 WIB, sesaat setelah kehadiran Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo beserta jajaran OPD. Lokasi kegiatan dipusatkan di komplek Sendang Sinongko. Turut hadir pula Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kadarwati.

Rangkaian acara diawali dengan tari tradisional Jawa Gambyong yang dibawakan 3 penari cantik. Para penari mengenakan kebaya, kain jarik, dan selendang dengan dominasi warna hijau dan kuning.

Dalam sambutannya, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi tradisi Bersih Sendang yang terus dilestarikan warga Desa Pokak. Ia mendorong agar kegiatan budaya seperti ini terus dikembangkan karena menjadi identitas dan daya tarik wisata desa.
“Tradisi seperti ini harus kita jaga dan kembangkan. Selain untuk melestarikan budaya, juga bisa menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kadarwati juga menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, Bersih Sendang Sinongko bertujuan melestarikan budaya warisan leluhur yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.
“Sejak saya kecil tradisi ini sudah ada. Ini bukti bahwa warga Pokak masih kuat menjaga warisan budaya dari para leluhur,” katanya.

Sementara itu, sesepuh Desa Pokak, Wandono menceritakan asal-usul nama Sendang Sinongko. Nama tersebut berasal dari Sri Susuhunan Pakubuwana VII yang singgah untuk beristirahat di mata air tersebut saat melakukan perjalanan ke Yogyakarta.
“Saat istirahat, sang raja memakan buah nangka dan membuang bijinya di sekitar mata air. Beliau berpesan agar tempat itu dinamai Sendang Sinongko jika biji nangka itu tumbuh dan kawasan sekitar menjadi makmur,” jelasnya.

Menurut Wandono, tradisi Tasyakuran ini awalnya dilakukan para petani dan warga sekitar sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan air sendang yang tidak pernah kering serta hasil panen yang melimpah. Dalam pelaksanaannya, warga secara gotong royong menyumbangkan ternak seperti kambing atau ayam untuk dimasak dan dinikmati bersama dalam kenduri atau pesta rakyat.

Tasyakuran Bersih Sendang Sinongko menjadi salah satu agenda budaya tahunan Desa Pokak yang tidak hanya sebagai ritual adat, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi warga. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *