INDONESIANEWS (Boyolali)* —
Berbekal belajar otodidak dari YouTube dan Google, Riki Sumarno warga Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, berhasil mengembangkan usaha greenhouse. Kini ia membudidayakan melon impor dan cabai rawit di Greenhouse Asfa Farm miliknya.
Riki Sumarno, warga Dukuh Borongan RT 04 RW 04, Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, merintis usaha greenhouse sejak 3 tahun lalu untuk komoditas melon. Sementara untuk cabai rawit, baru pertama kali ia tanam tahun ini.
Demi merawat orang tua, ia memilih pulang dari Jakarta dan banting setir menjadi petani. “Kalau greenhouse semua presisi. Dari air, pupuk, insektisida, fungisida, semua lebih irit dibanding ditanam di lahan terbuka,” ujar Riki.
Pengetahuan tentang greenhouse didapatkannya secara otodidak sambil belajar. Termasuk saat tanaman terkena penyakit. “Kalau tanaman buah kena penyakit belajar di Google atau YouTube untuk mengatasinya. Di online itu banyak sekali kalau kita mau belajar,” katanya.

Lahan yang digunakan awalnya milik ibunya seluas 650 meter persegi. Karena memiliki niat untuk berkebun dan tidak ada lahan, ia kemudian membeli lahan baru seluas 1000 meter persegi.
Dari 2 greenhouse yang semula seluruhnya ditanami melon, kini dikurangi. Saat ini ia mencoba menanam cabai di 1 greenhouse dan melon di 1 greenhouse lainnya.
Untuk bibit melon sendiri masih impor. Riki membelinya secara online atau di agen-agen importir benih.
Untuk pemasaran melon, Riki menjual langsung di sekitar tempat usaha dengan konsep wisata petik sendiri. Pengunjung bisa datang dan memetik buahnya langsung. Melon dijual dengan harga Rp30.000 per kilogram.

Usaha ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. “Karyawan dari pertama 2 orang, sekarang sudah 4 orang yang merupakan warga sekitar. 2 orang di kebun melon, 2 orang di kebun cabai,” tuturnya.
Dari sisi omzet, kebun melon yang masa panennya 2,5 bulan mampu menghasilkan hingga 1 ton sekali panen. “Bisa meraih 30 juta sekali panen. Keuntungan setelah dipotong biaya produksi dan bayar karyawan sekitar 5 juta,” ujarnya.
“Hasilnya bagus, bisa untuk gaji karyawan, beli pupuk, tanam lagi, menciptakan lapangan kerja,” tambahnya.
Namun ia mengaku ada kendala di sisi pemasaran. “Kalau harga habis ya habis, tapi harus jual sendiri. Kalau diambil tengkulak harganya ngepres. Dengan kita yang ngerawat, itung-itungannya jadi mepet,” katanya. (Oe)








Komentar