oleh

Ribuan Warga Padati Puncak Festival Candi Kembar, Rebutan Gunungan Tutup Acara

-Budaya-21 views

INDONNESIANEWS (Klaten)–Puncak Festival Candi Kembar di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten, Sabtu 23 Mei 2026, berhasil menyedot perhatian warga. Ribuan masyarakat datang langsung untuk menyaksikan perpaduan budaya, sejarah, dan nilai kerukunan yang ditampilkan di kawasan Candi Plaosan.

Ketua Panitia Irvan Satria Priambodo menyampaikan hal itu saat mempersiapkan acara di pelataran Candi Plaosan pada Jumat, 22 Mei 2026. Menurutnya, antusiasme warga sudah terlihat sejak hari persiapan.

Kompleks Candi Plaosan yang dibangun pada abad ke-9 menjadi latar utama kegiatan. Irvan menjelaskan, candi ini merupakan bukti nyata kehidupan berdampingan umat Buddha dan Hindu pada masa Mataram Kuno.

“Nilai sejarah inilah yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus merawat kerukunan di tengah perbedaan keyakinan,” ujar Irvan.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet. Ia menilai festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan kreasi budaya yang memperkuat persatuan masyarakat.

“Festival Candi Kembar di Desa Bugisan ini adalah kreasi pentas budaya yang menguatkan kerukunan di masyarakat,” kata Ida Pangelingsir yang memastikan akan hadir di puncak acara.

Ia menambahkan, keberadaan dua candi yang berdiri berdampingan sejak dulu menjadi pengingat bahwa toleransi sudah mengakar kuat di tanah Prambanan. Nilai tersebut perlu dihidupkan kembali lewat kegiatan yang melibatkan warga, seniman, dan tokoh lintas agama.

Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Klaten bersama Asosiasi FKUB Indonesia turut mendukung penuh acara ini. Kegiatan ini diharapkan menjadi penguat kerukunan di tingkat desa sekaligus inspirasi bagi perdamaian dunia.

Kehadiran para tokoh lintas agama membuat suasana acara tetap inklusif, aman, dan damai. Bagi panitia, festival ini bukan hanya ajang budaya, tapi juga momentum untuk memperkuat kerukunan hingga ke tingkat RT dan RW di Klaten.

Puncak acara ditutup dengan tradisi rebutan gunungan yang sarat makna. Gunungan berisi hasil bumi dan jajanan pasar diarak dalam kirab budaya merti desa, lalu diserbu warga sebagai simbol berbagi berkah dan kebersamaan tanpa batas. (*/Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *