INDONNESIANEWS (Solo)– Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, pelestarian naskah kuno dinilai semakin penting sebagai upaya menjaga identitas budaya bangsa.
Berangkat dari semangat tersebut, Republik Indonesia (RRI) Surakarta Programa 1 bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASA) Komisariat Surakarta menyelenggarakan program Obrolan Komunitas dengan tema Naskah sebagai Bahan Penyusun Identitas Lokal.
Kegiatan ini disiarkan secara langsung pada Kamis (9-7-2026) kemarin, pukul 20.00–21.00 WIB, melalui RRI Programa 1 Surakarta 101 FM, kanal digital RRI, serta platform media sosial RRI Surakarta.
Acara itu menghadirkan empat narasumber yang berkompeten di bidang filologi, sastra, sejarah, dan pengelolaan naskah kuno. Mereka adalah Prof. Dr. Bani Sudardi, selaku Guru Besar Universitas Sebelas Maret dan Ketua ATL Solo Raya, Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A. selaku Ketua MANASA Komisariat Surakarta, Adi Deswijaya, S.S., , selaku Dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, dan Totok Yasmiran, S.S, selaku Pengelola Naskah Kuno Museum Radya Pustaka. Acara akan dipandu oleh penyiar Rifqi Minov.
Ketua MANASA Komisariat Surakarta, Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A., menegaskan bahwa naskah kuno merupakan rekaman peradaban yang merekam sejarah, nilai budaya, sistem sosial, hingga kebijaksanaan lokal masyarakat Nusantara.
“Naskah merupakan rekaman peradaban. Melalui naskah, kita dapat memahami bagaimana leluhur membangun pengetahuan, nilai, dan identitas budaya. Jika naskah hilang, kita bukan hanya kehilangan dokumen, tetapi juga kehilangan sebagian ingatan kolektif bangsa. Oleh sebab itu, pelestarian, penelitian, digitalisasi, dan pemanfaatan naskah perlu dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Senada, Guru Besar UNS Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum. menekankan bahwa identitas lokal dibangun melalui narasi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Naskah kuno menjadi salah satu media penting karena memuat aspek sastra, hukum adat, etika, hingga filosofi kehidupan.
Dalam diskusi ini, para narasumber juga akan mengulas peran naskah kuno sebagai sumber rekonstruksi sejarah lokal, media pewarisan nilai budaya, serta fondasi pengembangan identitas daerah. Selain itu, akan disoroti pula tantangan pelestarian naskah seperti kerusakan fisik, minimnya kesadaran masyarakat, hingga pentingnya digitalisasi sebagai strategi penyelamatan warisan dokumenter bangsa.
Sebagai organisasi yang menghimpun peneliti, filolog, pustakawan, dan budayawan, MANASA terus berkomitmen memperluas literasi pernaskahan melalui penelitian, seminar, pelatihan pembacaan aksara lama, dan digitalisasi koleksi. Kolaborasi dengan RRI Surakarta diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas sehingga kesadaran terhadap pentingnya naskah kuno semakin meningkat.
Melalui Obrolan Komunitas, RRI Surakarta berupaya memperkuat fungsi radio publik sebagai media literasi budaya. Diskusi ini diharapkan mampu membangun kesadaran bahwa pelestarian naskah bukan hanya menjaga benda bersejarah, melainkan juga menjaga memori, identitas, dan keberlanjutan peradaban Indonesia. (*/Oe)








Komentar