INDONNESIANEWS (Klaten)*–Pemerintah Desa Mandong, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, menggelar acara Gelar Kirab Gerebeg Seribu Pincuk Tahun 2026 di Pendopo Nawasena, Mandong, Jumat (3/7/2026). Acara ditutup dengan perebutan 2 gunungan hasil bumi oleh masyarakat.
Kirab dimulai pukul 13.00 WIB dari Balai Desa Mandong. Barisan terdepan diisi siswa SD berseragam merah putih yang membawa gambar gunungan bergaya pewayangan. Di belakangnya tampak Kepala Desa Mandong, Heru Satmoko, bersama istrinya ikut berjalan.
Peserta kirab berasal dari 7 RW se-Desa Mandong. Masing-masing RW membawa nasi tumpeng beserta lauk pauknya. Selain itu, kirab juga menampilkan 2 gunungan hasil bumi yang berisi padi, terong, kacang panjang, dan berbagai hasil pertanian lainnya.
Rute kirab sepanjang sekitar 1 kilometer ditempuh selama satu jam. Rombongan kemudian tiba di pusat kegiatan, Pendopo Nawasena. Yang istimewa, para peserta langsung disambut Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kadarwati.
Sesampainya di lokasi, 2 gunungan hasil bumi diletakkan di halaman depan Pendopo Nawasena. Sementara itu, tumpeng dari 7 RW ditata rapi di sisi lain halaman untuk disyukuri bersama warga.
Dalam sambutannya, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat Mandong. Ia menyebut kegiatan kirab seperti ini menjadi jembatan untuk mempererat silaturahmi antarwarga.
Menurut Bupati, tradisi berbasis hasil bumi juga menjadi pengingat bahwa pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi desa. Ia berharap kegiatan serupa terus dilestarikan sebagai identitas budaya Klaten yang kaya.
Setelah doa bersama, 2 gunungan hasil bumi digotong ke tengah halaman Pendopo Nawasena. Begitu doa selesai dibacakan, masyarakat langsung menyerbu gunungan hingga suasana berubah riuh rendah. Tidak sampai 5 menit, gunungan ludes tak bersisa.
Hal serupa terjadi pada tumpeng. Namun, tumpeng dari masing-masing RT sudah dibagi ke dalam wadah daun pisang atau pincuk terlebih dahulu. Total pincuk yang dibagikan mencapai 1.000 buah, sesuai dengan nama kegiatan Kirab Gerebeg Seribu Pincuk.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kadarwati, turut mengapresiasi penyelenggaraan Kirab Gerebeg Seribu Pincuk Tahun 2026. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai budaya dan kebersamaan.
“Tradisi seperti ini harus terus dilestarikan,” kata Kadarwati. Ia menegaskan, pelestarian budaya lokal akan memperkuat jati diri masyarakat sekaligus menjadi daya tarik wisata desa.
Sementara itu, Kades Mandong Heru Satmoko mengatakan kegiatan ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas panen padi yang melimpah di desanya. Selain itu, acara ini juga menjadi upaya _nguri-nguri_ budaya agar tidak tergerus zaman.
Heru menambahkan, rangkaian acara Kirab Gerebeg Seribu Pincuk cukup meriah. Sehari sebelumnya digelar Pengajian Akbar dan Festival UMKM. Malam harinya ada pertunjukan Karawitan, dilanjutkan Sabtu siang hingga malam dengan Wayang Kulit lakon Brotoyudo Joyobinangun oleh Dalang Heri.
“Kegiatan Kirab Gerebeg Seribu Pincuk ini sudah memasuki tahun keempat dan secara rutin kami gelar setiap tahun. Tujuannya selain wujud syukur atas panen, juga untuk menjaga semangat kebersamaan dan nguri-nguri budaya desa. Alhamdulillah, antusiasme Bupati Klaten, Pak Hamenang, sangat tinggi. Beliau menyampaikan akan memasukkan acara ini ke dalam kalender event resmi Kabupaten Klaten, agar tradisi Mandong bisa dikenal lebih luas,” tutupnya. (Oe)








Komentar