oleh

Grebeg Pasar Masaran Cawas Klaten, Warga Berebut 8 Gunungan Hasil Bumi

-Daerah-45 views

INDONNESIANEWS (Klaten)–*Warga berebut gunungan hasil bumi dalam Grebeg Pasar Masaran Cawas, Klaten, Sabtu (20-6-2026) siang. Delapan gunungan berisi aneka sayur, buah, dan 30 tumpeng diarak sejauh 3 km sebagai ungkapan syukur para pedagang dan warga sekitar Pasar Masaran.

Arak-arakan diikuti 20 kontingen dengan start dan finis di depan panggung utama Pasar Masaran Cawas. Rombongan diawali kereta kuda, disusul pasukan bregodo dan pembawa puluhan tumpeng. Kontingen berasal dari pedagang, unsur pendidikan, keagamaan, perempuan, kelompok kesenian dan warga lainnya.

Warga antusias melihat acara itu dengan memenuhi sepanjang jalan yang dilewati. Peserta kirab sendiri menempuh rute sepanjang 5 kilometer dengan melewati jalan-jalan di Desa Bawak. Setelah sekitar 1 jam peserta tiba kembali di lokasi Pasar Masaran atau lokasi start.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo hadir terlambat di acara itu. Ia berjalan kaki dari titik parkir menuju panggung utama dan langsung disambut untaian bunga melati oleh warga.

Dalam sambutannya, Hamenang mengapresiasi konsistensi pedagang dan warga Cawas menggelar grebeg setiap tahun. Ia menyebut tradisi seperti ini bukti gotong royong masih hidup di Klaten.

Sebagai simbol restu, Hamenang menyerahkan tumpeng nasi kuning kepada Camat Cawas Joko Purwanto. Ia berharap pasar Masaran terus jadi pusat ekonomi kerakyatan dan ikon budaya Cawas yang bisa mengangkat UMKM lokal.

Anggota DPRD Provinsi Jateng Kadarwati dalam wawancara terpisah menyebut grebeg pasar punya dampak langsung ke omzet pedagang. Ia melihat keramaian yang tercipta bisa mengalahkan daya tarik minimarket.

Kadarwati menilai pelestarian budaya desa harus jadi prioritas anggaran. “Kami di DPRD siap dorong anggaran untuk event budaya desa. Kalau pasar tradisional rame, UMKM ikut naik kelas. Ini investasi budaya yang hasilnya nyata untuk ekonomi warga Cawas,” ujar Kadarwati.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi Pemprov, Pemkab, dan paguyuban pedagang. Menurutnya, tanpa dukungan kebijakan, tradisi seperti grebeg akan sulit bertahan dan berkembang lebih besar.

Ketua Paguyuban Pedagang Warung Wengi Wangi Pasar Masaran Cawas Riyanto menyebut ini penyelenggaraan tahun ke-11. “Tahun ini merupakan penyelenggaraan tahun ke-11. Ini wujud syukur dari para pedagang dan masyarakat sekitar sini atas rezeki yang dilimpahkan Allah. Jadi kami memperingatinya setiap memasuki bulan Muharram,” ungkap Riyanto saat ditemui di sela kirab. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *