INDONNESIANEWS (Klaten)–Sebanyak 25 Kepala Desa se-Indonesia mengikuti Program Pelatihan Kader Desa di Republik Rakyat Tiongkok pada 14 Juli–4 Agustus 2026. Salah satunya Kepala Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Noor Hafid Kalamullah, S.H., yang membawa pulang banyak inspirasi untuk membangun desa yang maju dan berdaya saing.
Program yang merupakan undangan Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok ini diselenggarakan oleh Pusat Layanan Kerja Sama Internasional, Kementerian Pertanian dan Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok, serta dikoordinasikan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta. Seluruh kegiatan dibiayai oleh Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok sebagai bentuk kerja sama pengembangan kapasitas aparatur desa.
Menurut Noor Hafid, pelatihan tersebut tidak hanya memberikan materi di ruang kelas, tetapi juga pengalaman langsung mengunjungi desa-desa maju, kawasan pertanian modern, koperasi, industri berbasis desa, serta pusat inovasi di Beijing, Yunnan, dan Hunan.

“Dari Tiongkok saya belajar bahwa kemajuan desa dibangun melalui kepemimpinan yang kuat, perencanaan yang konsisten, inovasi, serta keterlibatan aktif masyarakat. Desa maju bukan berarti meninggalkan identitasnya, tetapi mampu mengembangkan potensi lokal dengan sentuhan teknologi dan tata kelola yang baik,” ujarnya.
Ia menilai pengalaman tersebut sangat relevan diterapkan di Desa Ngawonggo, desa seluas hampir 158 hektare dengan penduduk lebih dari 6.000 jiwa yang dikenal sebagai “Desa yang Tidak Pernah Tidur”.
Julukan tersebut lahir karena aktivitas ekonomi masyarakat berlangsung hampir sepanjang hari. Pada pagi hari, masyarakat mengolah lahan pertanian, sementara siang hingga malam sentra-sentra industri pengecoran logam terus berproduksi. Di malam hari, kehidupan religius dan kegiatan kemasyarakatan tetap 6hidup melalui masjid, mushola, dan berbagai aktivitas sosial warga.
Menurut Noor Hafid, potensi tersebut menjadi modal besar untuk membawa Ngawonggo naik kelas sebagai desa yang tidak hanya kuat di sektor industri dan pertanian, tetapi juga unggul dalam pelayanan publik, penguatan UMKM, digitalisasi pemerintahan, pengembangan BUMDes, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pelajaran terbesar dari Negeri Tirai Bambu bukan menjadikan Ngawonggo seperti desa-desa di Tiongkok, tetapi bagaimana kami mampu mengelola potensi yang sudah dimiliki secara lebih profesional, inovatif, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia berharap berbagai gagasan yang diperoleh selama pelatihan dapat diwujudkan menjadi program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Di akhir keterangannya, Noor Hafid menyampaikan apresiasi kepada Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Bapak Yandri Susanto, Wakil Menteri Desa Bapak Ahmad Riza Patria, seluruh jajaran Kemendes PDT, Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, serta seluruh penyelenggara yang telah memberikan kesempatan belajar bagi para kepala desa Indonesia.
“Ilmu dan pengalaman yang kami peroleh akan menjadi bekal untuk mewujudkan Desa Ngawonggo yang semakin maju, mandiri, inovatif, dan sejahtera. Karena membangun desa sesungguhnya adalah menyiapkan masa depan,” tutupnya.
#BangunDesaBangunIndonesia #KemendesPDT








Komentar