oleh

Aksi Simbolik di Bundaran Gladag, Aliansi BEM Solo Raya Bawa Keranda dan Nyalakan Lilin untuk Korban HAM

-Ragam-70 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Solo Raya menggelar aksi simbolik di Bundaran Gladag, Solo, Selasa (29-9-2026) malam. Aksi tersebut digelar untuk menuntut kejelasan nasib sejumlah aktivis dan pegiat HAM yang dilaporkan hilang hingga meninggal dunia.

Aksi damai itu dimulai sejak pukul 16.30 WIB. Massa yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol September Hitam, secara bergantian melakukan orasi menuntut pengusutan tuntas kasus kematian dan hilangnya para aktivis tersebut.

Dalam aksinya, mereka membawa spanduk, poster, serta replika keranda yang ditutup kain putih bertuliskan ‘RIP HAM’. Mereka juga membawa foto-foto aktivis yang menjadi korban pelanggaran HAM, di antaranya pendiri Kontras Munir Said Thalib, petani pejuang Salim Kancil, dan tokoh masyarakat adat Amir Biki. Saat hari mulai gelap, mereka menyalakan lilin sebagai simbol duka dan perlawanan.

Selanjutnya, massa aksi berjalan kaki ke arah utara melewati Balai Kota Surakarta dan berputar menuju Benteng Vastenburg. Aksi tersebut berakhir di kawasan tersebut dengan tertib.

Menurut Koordinator Pusat Aliansi BEM Solo Raya, Dimas Malik Fajar, aksi tersebut merupakan refleksi September Hitam. Menurutnya, banyak nyawa melayang pada bulan September namun hingga kini belum ada kejelasan.

“Pada hari ini kami dari Aliansi BEM Solo Raya menyuarakan apa yang menjadi hak kita sebagai masyarakat, terutama hak asasi manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan, sepanjang tahun 2026 masih banyak kasus kehilangan nyawa yang menimpa aktivis hingga masyarakat sipil. “Kita juga melihat saudara-saudara kita di Papua yang kehilangan nyawa, baik itu masyarakat sipil maupun ASN dan sebagainya,” tuturnya. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *