INDONNESIANEWS (Solo)–Nama penyair Taufiq Ismail kembali mengemuka di ruang publik. RRI Surakarta bersama Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat UNS mengangkat tema “Mendukung Taufiq Ismail untuk Dapat Nobel” dalam program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Surakarta, Kamis (13/8/2026) malam.
Siaran yang dipandu Rifqi Minov itu menghadirkan tiga narasumber: Prof. Dr. Bani Sudardi, http://M.Hum. selaku Ketua HISKI UNS, Dr. Sugit Zulianto, http://M.Pd. dari Peergroup Javanologi UNS, dan Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A. dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara UNS.
Diskusi menyoroti kontribusi Taufiq Ismail yang dinilai telah melampaui batas sastra tertulis. Salah satu contohnya adalah puisi “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang kemudian diaransemen menjadi lagu oleh Chrisye dengan musik Erwin Gutawa.
Menurut para narasumber, transformasi puisi ke dalam bentuk musik merupakan alih wahana yang memperluas jangkauan karya. Puisi yang terinspirasi Q.S. Yasin :65 itu diolah Taufiq Ismail dengan bahasa simbolis sehingga pesan religiusnya sampai sebagai pengalaman estetik, bukan sekadar doktrin.[36]
“Karya Taufiq Ismail mampu hidup lintas medium. Dari teks puisi, menjadi lagu, orkestrasi, hingga kembali ditemukan generasi baru lewat platform digital. Ini bukti sastra Indonesia bisa masuk dalam percakapan kebudayaan dunia,” ujar Prof. Bani Sudardi.
Dalam diskusi juga dibahas kekuatan pesan moral dalam puisi tersebut. Simbol tubuh seperti tangan, kaki, dan mata dimaknai sebagai “arsip moral” yang merekam tindakan manusia. Pesan itu dinilai universal dan relevan melampaui konteks keagamaan.
RRI Surakarta melalui program Obrolan Komunitas berkomitmen membuka ruang dialog antara akademisi, komunitas sastra, dan masyarakat. Siaran RRI Pro 1 101 FM ini juga dapat diakses melalui kanal digital RRI.
Dukungan terhadap Taufiq Ismail untuk Nobel, menurut panitia, bukan semata soal penghargaan. Lebih dari itu, ini adalah upaya memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia ke panggung global.
_Penulis: A. Yudha. W dan Izza Nindya Aulia – Fotografer: Cut Mutiyah Pratiwi_
—
*VERSI 2: Gaya Feature – Ringan*
*Dari Puisi ke Lagu Chrisye: RRI Surakarta Gaungkan Dukungan untuk Taufiq Ismail Raih Nobel*
*SURAKARTA* — Bayangkan puisi yang bisa jadi lagu, dinyanyikan Chrisye, diaransemen Erwin Gutawa, lalu masih relevan sampai sekarang. Itulah salah satu alasan RRI Surakarta dan HISKI UNS menggelar diskusi bertajuk “Mendukung Taufiq Ismail untuk Dapat Nobel” di RRI Pro 1 Surakarta, Kamis (13/8/2026).
Selama satu jam, pukul 20.00–21.00 WIB, para pegiat sastra berkumpul membahas kiprah penyair kelahiran Bukittinggi itu. Hadir Prof. Bani Sudardi, Dr. Sugit Zulianto, dan Dr. Asep Yudha Wirajaya. Acara dipandu Rifqi Minov.
Sorotan utama jatuh pada karya “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”. Puisi yang lahir dari renungan Q.S. Yasin itu berubah wujud jadi lagu pop orkestra di album _Kala Cinta Menggoda_ 1997. Proses rekamannya bahkan sampai ke Melbourne dan Sydney.
“Gagasan spiritual Chrisye bertemu lirik Taufiq Ismail. Ditambah aransemen Gutawa, jadilah karya yang menyentuh sampai ke hati,” kata Dr. Asep Yudha.
Para narasumber sepakat, kekuatan Taufiq Ismail ada pada kemampuannya membuat sastra hidup di mana saja. Puisi bisa jadi lagu, lagu bisa jadi bahan kajian, dan sekarang bisa diakses lewat humaniora digital.
Lebih dari itu, pesan “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” dinilai universal. Tubuh manusia disebut sebagai arsip moral yang mencatat semua perbuatan. Pesan itu, menurut Dr. Sugit, penting untuk mengingatkan manusia tentang tanggung jawab.
“Ini bukan cuma soal Nobel. Tapi bagaimana kita memperkenalkan sastra Indonesia yang punya kedalaman nilai ke dunia,” tegas Prof. Bani.
Melalui Obrolan Komunitas, RRI Surakarta ingin membuktikan bahwa sastra bukan barang museum. Ia hidup, bergerak, dan terus berdialog dengan zaman. (*/Oe)








Komentar