INDONNESIANEWS (Sukoharjo)– Petilasan Kasultanan Keraton Pajang di Dukuh Benowo II, Desa Makamhaji, Sukoharjo, dipadati warga pada Kamis (11-6-2026) malam. Malam Jumat Kliwon itu digelar ritual doa bersama yang dipimpin budayawan R Bambang Sridaya. Kegiatan yang diikuti 150 orang tersebut digelar untuk menyambut 1 Syuro.
Acara dimulai pukul 21.00 WIB, tidak lama setelah kehadiran Penasehat sekaligus Pengasuh Petilasan Kasultanan Keraton Pajang, R Bambang Sridaya di Joglo Petilasan. Doa dan tahlil dipimpin oleh pemuka agama setempat dan diikuti oleh seluruh yang hadir. Sekitar 30 menit prosesi tersebut berlangsung dengan khidmat.

Usai doa dan tahlil, R Bambang Sridaya berdiri dan membagi-bagikan uang dengan nominal tertentu kepada seluruh peserta sebagai bentuk sedekah. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama hidangan olahan kambing yang telah disiapkan.
Acara ditutup dengan kirab dari gerbang masuk Petilasan Kasultanan Keraton Pajang. R Bambang Sridaya berjalan di bagian paling depan, diikuti pengelola petilasan dan masyarakat setempat. Dalam kirab singkat itu, ikut dibawa sebuah senjata pusaka berwujud payung sebagai lambang perlindungan.

Setibanya di dalam petilasan, senjata pusaka payung tersebut dipasang di bagian dalam, tidak jauh dari sendang. R Bambang Sridaya menuturkan, kegiatan spiritual di Petilasan Pajang memang rutin digelar tiap tahun saat memasuki 1 Suro. Jika tahun depan situasi sudah kondusif, kirab besar kemungkinan akan diadakan lagi. Untuk saat ini, doa dan tahlil di malam Jumat Kliwon dipilih sebagai cara terbaik untuk tetap nguri-uri tradisi sekaligus menjaga keselamatan bersama.
R Bambang Sridaya menjelaskan, kegiatan malam ini digelar sebagai pengganti Kirab 1 Suro yang biasanya rutin diadakan setiap tahun untuk menyambut tahun baru Jawa. Tahun ini kirab ditiadakan karena situasi dinilai kurang kondusif. Sebagai gantinya, masyarakat berkumpul untuk doa, tahlil, dan wirid bersama di petilasan Pajang.

“Tiap tahun sebenarnya ada kirab untuk jemput tanggal 1 Suro, biasanya sampai ke Parangkusumo. Tapi tahun ini kita ganti dengan doa di sini. Intinya sama, untuk memohon keselamatan,” ujar R Bambang Sridaya. Ia menegaskan ritual ini penting agar masyarakat Pajang khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya, diberi kesehatan dan dijauhkan dari kekacauan.
Seluruh rangkaian acara berjalan tertib tanpa arak-arakan besar. Lantunan doa dan wirid yang menggema menjadi cara warga “menjemput” tanggal 1 Suro dengan khidmat, sembari berharap keselamatan dan ketenteraman bagi bangsa. (Oe)











Komentar