INDONNESIANEWS (Solo)–Memeriahkan Iedul Fitri 1447 H hari ke 2, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menggeleng tradisi Hajad Dalem Gerebeg Poso Gunungan, Minggu (22-3-2026).
Dalam acara itu sebanyak sepasang gunungan Jaler (laki-laki) dan Estri (perempuan) di arak dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung, untuk kemudian bagikan ke masyarakat di akhir kegiatan sebagai simbol kemakmuran.
Pukul 10.30 WIB, kirab Gerebeg dimulai dengan dibukanya pintu utama Kamandungan Keraton Surakarta. Ada di barisan depan sebagai cucuk lampah dalam kegiatan yang rutin digelar pada hari-hari besar Islam seperti Iedul Fitri yakni pasukan atau prajurit penabuh musik dramband.
Ada di barisan selanjutnya masih Pasukan Keraton Surakarta dari berbagai kesatuan (divisi) bersenjata pedang di pinggang. Meskipun para prajurit umumnya di dominasi manula namun langkah mereka tegap dan gagah apalagi dengan pakaian seragam prajurit Keraton yang khas dan corak berbeda.

Selanjutnya ada barisan abdi dalem yang membawa sejumlah kotak kayu berisi takir nasi beserta lauk pauk. Baru setelah itu, barisan pengageng dan Abdi dalem Keraton Surakarta.
Barisan abdi dalem pembawa sepasang gunungan Jaler dan estri berikutnya. Karena ukuran gunungan yang cukup besar dan berat sehingga diperlukan banyak prajurit untuk mengusung di empat sisi. Bahkan saat berada di kompleks Masjid Agung yang terdapat tembok gapura, gunungan harus diturunkan dan dimasukkan dengan kehati-hatian agak tidak menyentuh gapura.
Perbedaan utama gunungan jaler dan estri terletak pada isi dan bentuknya. Gunungan Jaler berbentuk kerucut lancip berisi hasil bumi mentah (sayur/buah) melambangkan kesuburan, sedangkan Gunungan Estri berbentuk kerucut terbalik atau bokor berisi makanan matang (rengginang/kue) melambangkan sedekah.
Sesampai di Masjid Agung, gunungan Jaler diletakkan di sisi kiri masjid dan gunungan Estri di sisi kanan. Hal itu karena hanya gunungan Jaler yang dibagikan ke masyarakat sedangkan gunungan Estri dibawa lagi untuk dibagikan kepada abdi dalem di halaman Keraton Surakarta.

Sementara itu Pengageng dan Abdi dalem diterima pemuka agama Keraton Surakarta di serambi Masjid, lokasi dipusatkanya kegiatan. Di tempat itu kotak kayu berisi takir nasi diletakkan dibagian tengah. Kegiatan tradisi Hajad Dalem Gerebeg Poso ditutup dengan doa oleh pemuka agama Keraton Surakarta KH Muhtarom.
Menariknya di halaman Masjid Agung, masyarakat yang sudah tidak sabar telah mengelilingi gunungan Jaler. Begitu doa selesai mereka langsung berebut hasil bumi seperti kacang panjang, cabai, terong, timun dan lainnya. Tidak menunggu lama seluruh isian gunungan Jaler habis tak bersisa.
Pengunjung yang berebut selain datang dari Solo Raya ternyata juga merupakan pemudik yang tengah berlibur bersama anggota keluarganya.
Seperti disampaikan Arif, warga Karanganyar, yang datang bersama istri dan anaknya yang masih balita. “Sengaja datang liat Gerebeg setelah dikasih tau saudara. Alhamdulillah bisa liat langsung. Ini dapat terong dan kacang panjang nanti dimasak, semoga berkah,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Fajar, warga Wonosobo. “Ngga sengaja pas lewat Keraton ada acara sekalian liat apalagi memang belum pernah menyaksikan. Acanya bagus untuk nguri-uri budaya jawa supaya tetap lestari,” tuturnya.

Sementara menurut Penghulu Tafsir Anom atau pemuka agama Keraton Surakarta, KH Muhtarom, setiap tahun Keraton Surakarta menggelar tradisi Hajad Dalem Gerebeg Poso Gunungan Iedul Fitri.
Dalam setahun kata dia Keraton mengadakan 3 Gerebeg yakni Gerebeg Maulud, Gerebeg Poso dan Gerebeg Poso dan Gerebeg besar (Iedul Adha). “Hari ini Keraton mengirim Gerebeg Poso yang kemudian yang kemudian didoakan di Masjid Agung,” ujarnya.
Kegiatan itu tambah Muhtarom, di gelar sebagai wujud syukur Keraton Surakarta kepada nikmat Allah SWT, yang telah menyelesaikan ibadah puasa selama 1 bulan penuh.
Adanya nasi dan sepasang gunungan Jaler dan estri yang dibawa dalam acara kata Muhtarom lagi juga sebagai bentuk rasa syukur dan shodaqoh kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT yang artinya Shodaqoh itu bisa mencegah bala atau menolak bala. “Konsepnya sama antara Gunungan yang ada di Sekaten, Gerebeg Poso, Gerebeg besar sama sebagai wujud syukur kepada Allah SWT apa kelimpahan rezeki hasil bumi yang diberikan,” paparnya. (Oe)








Komentar