oleh

Panggih Jadi Momen Sakral Pertemuan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas di Dhaup Ageng Mangkunegaran

-Ragam-44 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Prosesi Panggih dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran menjadi penanda dimulainya perjalanan baru http://G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas. Keduanya dipertemukan secara adat di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Jumat (6-11-2026).

Panggih menjadi salah satu prosesi inti karena tidak hanya mempertemukan kedua mempelai, tetapi juga menyatukan dua keluarga. Setiap tahapannya sarat akan doa dan simbol tentang penerimaan, kerukunan, dan tanggung jawab hidup bersama.

“Setiap tahap dalam Panggih membawa doa dan harapan. Nilai utamanya adalah penerimaan keluarga, kerukunan, tanggung jawab, serta kesediaan kedua temanten untuk menjalani kehidupan bersama,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo, M.P.A.

*Pertemuan dan Penyatuan*

Rangkaian Panggih diawali dengan persiapan terpisah. Gusti Sura dibimbing dari Panti Busana menuju Ndalem Ageng, sementara Kanjeng Dimas menjalani serah terima di Bangsal Tosan sebelum menuju Pendapa Ageng.

Prosesi dibuka dengan Pisang Sanggan, yang menegaskan kesungguhan calon mempelai pria untuk memasuki pernikahan dan menerima tanggung jawab. Di dalamnya terselip doa untuk keluhuran budi, kerukunan, keteguhan niat, dan ikatan kedua mempelai.

Atas perkenan S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas kemudian dikapanggihaken atau dipertemukan. Momen ini menjadi puncak Panggih, di mana dua perjalanan yang sebelumnya dijalani masing-masing kini bertemu dalam satu langkah.

Pertemuan itu dilanjutkan dengan Balangan Gantal. Keduanya saling melempar gulungan daun sirih yang diikat benang, sebagai lambang keterikatan dan kesiapan menerima berbagai pengalaman dalam berumah tangga.

*Restu Keluarga dan Berbagi Peran*

Peran keluarga hadir kuat dalam prosesi Sinduran dan Bobot Timbang. Dalam Sinduran, G.K.P. Mangkoenagoro IX menuntun kedua mempelai menuju pelaminan dengan kain sindur. Tindakan ini melambangkan restu orang tua yang mengantarkan keduanya memasuki kehidupan baru.

Sementara Bobot Timbang menegaskan bahwa Gusti Sura dan Kanjeng Dimas memiliki kedudukan setara dalam kasih sayang dan penerimaan keluarga.

“Kedua temanten diterima dengan kasih sayang yang sama. Mereka tidak lagi berdiri sebagai dua pihak yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari satu keluarga yang akan saling menjaga,” jelas Kanjeng Tjuk.

Makna kebersamaan berlanjut dalam Ngunjuk Degan, Kacar-Kucur, dan Dhahar Klimah. Ketiganya menyampaikan pesan agar pasangan menjaga kejernihan dan kerukunan, mengemban tanggung jawab bersama, serta berbagi suka, duka, dan rezeki dalam berbagai keadaan.

Dalam Kacar-Kucur, hasil bumi dan uang diserahkan sebagai simbol amanah, sementara Dhahar Klimah menjadi simbol kesediaan berbagi kehidupan.

Melalui Panggih, Dhaup Ageng Mangkunegaran menempatkan tradisi bukan sekadar seremoni, tetapi sebagai tuntunan hidup. Di balik setiap tata cara, tersimpan doa agar Gusti Sura dan Kanjeng Dimas dapat membangun rumah tangga yang saling menghormati dan menjaga tanggung jawab bersama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *