INDONNESIANEWS (Solo)–Mempelajari sejarah dan kebudayaan tidak cukup hanya dengan membaca baris demi baris teks di dalam ruang kelas. Guna menyelaraskan teori yang telah didapat dengan realitas di lapangan, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024, Universitas Sebelas Maret, melaksanakan kegiatan kuliah lapangan ke Perpustakaan Sasana Pustaka, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Rabu (2/6/2026) lalu.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa mempelajari karakteristik koleksi yang ada. Secara kuantitas fisik, jumlah buku manuskrip di perpustakaan ini berkisar di angka 650-an bendel. Uniknya, di dalam jumlah tersebut terkandung lebih dari 1.450 judul karya sastra. Fenomena ini terjadi karena metode penulisan masa lalu sering kali menyatukan beberapa teks berbeda ke dalam satu jilid fisik yang sama (kompilasi), seperti yang kerap dijumpai pada rumpun Serat Suluk.
Lembaran Rapuh dan Relevansi Ilmu Modern
Tantangan terbesar dalam merawat naskah-naskah ini adalah faktor usia. Mayoritas naskah keraton ini sangat tebal, rata-rata di atas 250 halaman per buku. Karena sudah berumur ratusan tahun, kondisi fisiknya mulai rapuh: kertasnya mudah patah, tintanya memudar, bahkan ada tinta kuno yang saking tajamnya sampai tembus dan merusak halaman di baliknya. Meski fisiknya mulai menua, isi di dalam naskah-naskah ini ternyata sangat berharga dan diakui oleh dunia internasional. Isi naskah keraton tidak bahasa Jawa terdapat juga Bahasa melayu.
Dokumen bersejarah tersebut merekam berbagai informasi yang sangat dibutuhkan oleh berbagai bidang keilmuan modern saat ini.
“Kandungan naskah yang ada di dalam itu sudah multi di situ. Jadi semua aspek kebutuhan manusia itu ternyata sudah ditulis mbah-mbah kita di dalam naskah.” Ujar K.R.A.T. Supardjo Dwijo Hadinagoro.
Dalam pemaparannya, mencontohkan bagaimana lembar naskah kuno menjadi rujukan ilmiah di luar bidang bahasa. Rumpun Kedokteran dan Farmasi memanfaatkan data dari Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi peninggalan era Sri Susuhunan Pakubuwano IX, yang mendokumentasikan sekitar 1.790 formula ramuan herbal. Di sisi lain, dunia Pertanian mengkaji sistem penanggalan Pranata Mangsa, bidang Teknik membedah pola arsitektur tradisional, sementara ranah Hukum menggali struktur hukum adat.

Didalam Ruang Koleksi Naskah Sasana Pustaka. (Dokumentasi oleh Dessi Nur Anggraini)
Rekam Jejak Konservasi dan Keterbukaan Akses Virtual
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa angkatan 2024 ini juga belajar tentang sejarah upaya penyelamatan naskah keraton agar tidak punah dimakan waktu, Tahun 1983 angkah penyelamatan awal diwujudkan lewat konversi teks ke dalam bentuk mikrograf atau mikrofilm, sebuah peneliti asal Amerika bernama Nancy Florida.
Tahun 2010–2013 Sasana Pustaka Karaton Surakarta Hadiningrat bekerja sama dengan berbagai lembaga akademik, instansi pemerintah, dan yayasan kebudayaan untuk preservasi naskah kuno. Karena naskahnya sangat tebal, proyek selama 3 tahun ini baru berhasil mendigitalisasi sekitar 60% dari total naskah yang ada.
Masyarakat luas dan para mahasiswa sekarang tidak perlu repot-repot datang ke keraton atau takut merusak kertas asli jika ingin membaca isinya. Hasil ketikan ulang naskah-naskah kuno tersebut ke dalam huruf Latin kini sudah diunggah ke internet dan bisa diakses secara gratis melalui situs www.sastra.org.
Di website tersebut, sudah ada sekitar 1.350 judul naskah yang siap dibaca siapa saja. Melalui kegiatan kuliah lapangan ini, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2024 tidak hanya pulang membawa teori baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman tentang bagaimana teknologi modern bisa membantu menyelamatkan warisan sejarah masa lalu. (*/Oe)














Komentar