oleh

KH. Hartoyo : Perbedaan Hari Raya Idul Fitri Jadi Momentum Perkuat Persatuan

-Ragam-279 views

INDONNESIANEWS (Klaten)–Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) Kabupaten Klaten KH Hartoyo mengatakan bahwa adanya perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan solidaritas umat Islam.

KH. Hartoyo mengatakan bahwa pada Jumat (20-3-2026), sebagian umat Islam telah merayakan Idul Fitri, sementara sebagian lainnya masih menjalankan ibadah puasa.

“Kami dari MUI mengajak masyarakat menjadikan perbedaan ini sebagai wadah mempererat tali persaudaraan, pentingnya menjaga stabilitas sosial demi terwujudnya masyarakat yang damai dan sejahtera.” katanya.

Hartoyo juga mengimbau kepada seluruh umat Islam di Klaten untuk senantiasa menjaga ketenangan, keamanan, ketertiban, dan kebersamaan selama masa Lebaran tahun ini,” ujar Hartoyo di Klaten, Jumat (20/3/2026) malam.

KH.Hartoyo yang juga pengurus FKUB Kabupaten Klaten ini menekankan bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga kesempatan untuk mempererat silaturahmi.

“Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai titik awal membangun solidaritas, menguatkan ukhuwah baik di tingkat nasional maupun global.” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, termasuk masyarakat dhuafa dan masyarakat yang kurang mampu.

“Memberi adalah panggilan dari semangat ke-berislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadhan,” katanya.

Hartoyo mengingatkan pentingnya menahan amarah, memperbanyak maaf, dan mempererat silaturahmi di hari suci ini dengan menambahkan bahwa kemanusiaan seringkali rusak akibat rusaknya hubungan antarindividu dalam menjalani kehidupan.

“Terjadinya perbedaan sidang isbat pentingnya toleransi bagi masyarakat yang berbeda keyakinan dalam menentukan awal Syawal. Kami mengajak umat untuk terus menjaga kebersamaan dan nilai-nilai baik yang telah dibangun selama berpuasa dengan sikap-sikap baik seperti kesederhanaan, sedekah, dan zakat fitrah terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.” pungkasnya. (*/Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *