INDONNESIANEWS (Solo)-INDONNESIANEWS.COM –* Sebanyak 1.700 penari dari sanggar, pelajar, masyarakat, dan lainnya memadati Titik 0 Kota Solo dalam pergelaran tari kolosal “Aku Kipas” pada Solo Menari 2026, Rabu (29-4-2026).
Selama 15 menit mulai pukul 15.30 WIB, ribuan kipas bergerak serentak di depan Balai Kota Surakarta. Harmoni gerak, rasa, dan bahasa itu langsung memecahkan rekor dunia.
Atas capaian tersebut, Pendiri Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID) Paulus Pangka menyerahkan piagam rekor dunia ke-1025 kepada Wakil Walikota Solo Astrid Widayani dan Art Director Heru Mataya.

Solo Menari 2026 resmi tercatat sebagai “Pagelaran Tari Kolosal dengan Penari Kipas Terbanyak”. Rekor ini bukan hanya tingkat nasional, tapi dunia.
Karya kolaboratif Pemkot Solo ini digarap Koreografer Nur Diatmoko & Ayu Wardani, Komposer Gregorianto bersama Grup Gamelan Artaxiad, dan Art Director Heru Mataya. Mengusung pesan, “Kipas bukan sekadar properti, ia adalah bahasa, rasa, dan gerak yang menyatu”.
Solo Menari 2026 jadi ruang inklusif yang merangkul lintas usia dan latar belakang. Salah seorang peserta, Laila, mengaku senang bisa berpartisipasi dalam World Dance Day ini. “Bangga banget bisa nari bareng ribuan orang. Rasanya merinding,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Wakil Walikota Astrid Widayani menekankan perayaan Hari Tari Dunia ini sebagai wujud inklusivitas budaya di titik nol kota. Ia menegaskan seni tari sebagai modal sosial dan penggerak ekonomi kreatif Kota Solo. “Diharapkan melalui acara ini, Solo semakin mengukuhkan diri sebagai Kota Budaya yang dinamis dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” kata Astrid.
Menjelang akhir acara, Astrid dan para undangan ikut turun menari bersama ribuan penari. Solo Menari 2026 masuk Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kemenpar. Rangkaian World Dance Day 2026 ini juga digelar di ISI Surakarta, Ngarsopuro, Taman Balekambang, dan Pasar Gede.
Pendiri LEPRID Paulus Pangka menegaskan rekor ini kelas dunia. “Tidak hanya terbanyak di Indonesia, tapi dunia. Sebab belum ada sebelumnya ada tari kipas sebesar ini. Kegiatan ini sangat inspiratif karena warisan leluhur untuk senantiasa nguri-nguri budaya,” ujarnya. (Oe)








Komentar