INDONNESIANEWS (Sukoharjo)–Kalau ngomongin calon Kepala Desa Kudu, Kecamatan Baki, Sukoharjo, periode 2026-2034, ada satu nama muda yang lagi jadi omongan warga. Namanya Bimo Adi Nugroho, S.IP. Umurnya baru 27 tahun, lahir 19 Mei 1999.
Jangan salah, meski muda track record-nya gak kaleng-kaleng. Mas Bimo ini lulusan Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM tahun 2022 dengan predikat Cumlaude. Waktu kuliah dia bukan cuma kupu-kupu, tapi jadi Asisten Dosen buat mata kuliah yang berat-berat kayak Manajemen Risiko sampai Politik Keuangan Negara. Di kampus dia juga pernah jadi Ketua Riset Dewan Mahasiswa FISIPOL, Komisioner KPU Mahasiswa UGM, sampai Hakim MK Mahasiswa.
Lulus kuliah, dia sempat terbang jauh jadi Tenaga Ahli Investasi SDA di Kabupaten Fakfak dan Teluk Bintuni, Papua Barat. Sekarang dia balik kampung dan ngerintis usaha Rumah Roti & Kue Surya Kencana.
Bawa Gagasan KUDU SIP
Maju jadi calon Kades, Mas Bimo bawa gagasan yang dia sebut KUDU SIP. “Manunggal Ing Gawe, Migunani Tumraping Liyan adalah manifestasi mewujudkan tata kelola pemerintahan Desa Kudu yang demokratis, adil, bijaksana, dan kolaboratif dalam masyarakat yang heterogen,” ujarnya.
Visi dia juga jelas, “Mewujudkan Desa Kudu yang Adil dan Sejahtera dengan Semangat Gotong Royong,” tuturnya.
Visi tersebut yang kemudian dijabarkan ke dalam 6 misi pembangunan yang fokus pada penguatan SDM dan semangat gotong royong.
Misinya ada 6, gak muluk-muluk tapi ngena:
1. Bangun desa yang fokus ke manusia, gak cuma bangunan.
2. Bikin warga yang pinter, tepo seliro, dan saling support lewat pendidikan politik dan kegiatan bareng-bareng kayak lomba 17-an.
3. Pemerintahan desa yang terbuka. Anggaran dan program desa harus transparan, bisa diakses semua orang.
4. Desa yang aman dan tentram. Termasuk ngatur lalu lintas pas ada acara biar gak ruwet dan cepat tanggap kalau ada tindak kriminal.
5. Pinter-pinter kolaborasi. Dari tingkat kecamatan sampai pusat, sampai ke anggota DPRD biar program gampang masuk ke Kudu.
6. Bikin PADes naik dengan mengoptimalkan aset dan potensi ekonomi yang udah ada di desa.
Soal kolaborasi, Mas Bimo menekankan pentingnya kerja bareng. “Diperlukan kerja sama pemerintah desa dengan masyarakat serta unsur pemerintahan lainnya untuk mewujudkan Desa Kudu yang mandiri dan berbudaya,” paparnya.
Menurutnya, Pemerintah Desa harus jadi penggerak yang merangkul semua pihak, mulai dari warga, RT/RW, TP PKK, Kelompok Tani, sampai Tenaga Kesehatan Desa.
Alasan Maju Karena Kepedulian
Bukan tanpa alasan Mas Bimo nekat maju di usia 27 tahun. Semua berawal dari cerita-cerita warga yang dia dengar langsung saat ngobrol di pos ronda sampai warung kopi.
Dari obrolan sama tokoh masyarakat, Ketua RT/RW sampai anak-anak muda, dia menangkap satu benang merah. Tata kelola Desa Kudu dinilai masih jalan di tempat. Komunikasi antara Pemdes dan warga sering nyambung-putus. Info dari desa gak sampai ke bawah, aspirasi dari bawah gak nyampe ke atas.
Keprihatinan itu makin kuat saat dia melihat sendiri ketimpangan pembangunan. Contoh paling nyata ada di Sawahan. “Jalan di Sawahan itu rusak parah. Pas hujan, lubangnya makin dalam sampai ada talut yang longsor. Akhirnya sering kecelakaan. Saya sendiri pernah ngalamin,” ungkapnya.
Merespon hal tersebut, Mas Bimo bersama dengan Relawan, cepat tanggap melakukan perbaikan jalan secara mandiri.
Belum lagi soal gelapnya jalan di malam hari. “Penerangan jalan itu dari zaman Bapak saya pensiun jadi Kades tahun 2012, ya masih gitu-gitu aja. Kemarin memang ada tambahan 3 titik dari bantuan aspirasi DPRD Provinsi, tapi masih kurang. Akibatnya rawan kriminal. Gak cuma begal perhiasan, bahkan ada kasus begal payudara. Security perumahan di sini sering cerita ada kejadian, tapi gak ada respon dari Pemdes,” kata bapak satu anak itu.
Sorotan lain datang dari sawah. Kelompok tani di Desa Kudu yang tergabung dalam Gapoktan, menurutnya, butuh pendampingan lebih serius, terutama saat diserang hama wereng. Petani butuh diajak duduk bareng, didengar kebutuhannya, bukan dibiarkan jalan sendiri.
Begitu juga dengan Balai Desa yang pembangunannya mangkrak hingga kini. Padahal, kata Bimo, gedung itu bisa jadi pusat hidupnya desa. “Kalau jadi, bisa buat latihan kesenian. Potensi anak muda Kudu itu luar biasa lho. Kita belum punya sanggar tari, jadi anak-anak harus latihan sampai ke Kadilangu. Padahal kita punya gamelan sendiri. Anak-anak kita banyak yang berprestasi sampai Porprov, ada yang sprint, sepeda balap, sepatu roda. Sayang kalau gak difasilitasi,” ujar Bimo. (Oe)








Komentar