INDONNESIANEWS (Solo)—Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, khususnya kelas Filologi, menggelar kunjungan ke RRI Surakarta pada Rabu (2-9-2026). Kunjungan ini dalam rangka mengikuti acara Jagongan dengan tema “Pentingnya Nobel untuk Taufiq Ismail”.
Dalam diskusi tersebut dibahas perjalanan panjang Taufiq Ismail sebagai penyair Indonesia. Pria yang lahir 25 Juni 1935 ini dikenal karena karyanya yang tajam mengkritik kondisi sosial sekaligus sarat nilai spiritual.
Salah satu pembahasan menarik adalah tentang kemampuan Taufiq Ismail melakukan alih media karya sastra. Contohnya lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” hasil kolaborasi dengan Chrisye. Lagu tersebut membuktikan puisi bisa diolah menjadi karya musik dan tetap menyentuh berbagai generasi tanpa mengurangi maknanya.
Diskusi juga menyoroti wacana pengusulan Taufiq Ismail sebagai penerima Nobel Sastra. Meski sebelumnya pernah diajukan namun belum berhasil, upaya untuk mengusulkannya kembali terus dilakukan. Hal ini dinilai penting untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke kancah internasional.
Konsistensi Taufiq Ismail dalam menyuarakan isu sosial dan politik juga menjadi sorotan. Sikap kritisnya sudah terlihat sejak masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Salah satu karya yang lahir dari peristiwa 1966 adalah puisi yang mengenang wafatnya Arif Rahman Hakim.
Dalam proses pengusulan Nobel, kualitas dan pengaruh karya menjadi poin utama. Karya Taufiq Ismail dinilai memenuhi hal tersebut. Bukunya telah diterjemahkan ke sekitar 50 bahasa asing dan 22 bahasa daerah. Bahkan saat berada di Prancis pada 1971, ia tetap menulis puisi tentang Indonesia sebagai bentuk kecintaannya pada tanah air.
Para pemateri dalam Jagongan juga menegaskan bahwa sastra memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan politik. Sastra bukan hanya karya estetis, tetapi juga alat untuk merekam zaman, menyampaikan kritik, dan menyuarakan keresahan masyarakat. Karena itu, penguatan literasi dan dukungan terhadap sastra di Indonesia perlu terus dilakukan.
Bagi mahasiswa Filologi, kunjungan ini menjadi pengalaman berharga untuk memahami lebih dalam kaitan antara sastra, sejarah, sosial, dan politik. Sekaligus membuka wawasan tentang kiprah sastrawan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. (*/Oe)








Komentar