oleh

Yayasan Lentera Hati Kudus dan DPD Perpina Jawa Tengah Gelar Festival Difabel 2025 Di Balaikota Surakarta

-Daerah-334 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Yayasan Lentera Hati, Kudus Jawa Tengah bekerjasama dengan DPD Perpina Jawa Tengah, menggelar Festival Difabel 2025, dengan tema “Berdaya Berkarya Setara”, di Pendopo, Balaikota Surakarta, Selasa (23-12-2025).

Kegiatan yang diikuti ratusan Difabel itu dimeriahkan Fashion show Difabel, Bazar Difabel, Konsultasi Aura dan Kesehatannya, Meja Grafologi, Pemeriksa Gigi gratis, Konsultasi Psikologi gratis, dan Talk show bersama Bunda Heni (Sinau Urip) “Memahami Gejala Gangguan Perilaku dan Gangguan Mental Masa Anak-Anak”.

Acara itu dibuka Fashion show oleh belasan Difabel. Layaknya peragawati Difabel dari perempuan dan laki-laki mengenakan pakaian etnik melenggak lenggok di atas hamparan karpet merah yang berada di tengah-tengah tamu undangan yang hadir di kegiatan untuk memperingati hari difabel tersebut.

Tanpa canggung bak peragawati profesional mereka satu persatu para Difabel menunjukkan kebolehannya dalam seni gerak hingga mengundang decak kagum dan tepuk tangan gemuruh dari mereka yang menyaksikan.

Menurut Ketua Umum Lentera Hati, Meyke Yostania, kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember 2025 lalu, namun baru diselenggarakan saat ini, sekaligus Road show di beberapa kota bekerjasama dengan DPD Perpina Jawa Tengah.

Acara itu kata dia untuk mengkampanyekan tentang adanya kesehatan mental dan gangguan perilaku pada anak. “Jadi tadi ada talk show yang di isi praktisi dari kesehatan mental dan Bazar UMKM difabel, fashion show anak- Anan difabel, layanan konsultasi gratis, klinik Gigi gratis, konsultasi tumbuh kembang gratis dan pemeriksaan aura dan lainnya,” ujarnya.

Tujuan diselenggarakannya acara itu tambah dia mengedukasi masyarakat tentang adanya gangguan mental dan perilaku yang memungkinan sudah muncul saat masih anak-anak. “Saat inikan masih banyak kasus bunuh diri remaja jadi kita dari Isyu itu kita melakukan edukasi atau kampanye atau sosialisasi tentang adanya gangguan perilaku dan mental yang kemungkinan muncul pada masa anak-anak makanya ada meja konsultasi psikologi,” tuturnya.

Ia berharap dari kegiatan itu banyak masyarakat lebih peduli atau aware tentang gangguan perilaku dan mental itu sejak anaknya masak anak-anak. “Walaupun anak-anak ceria itu kita tidak tahu kalau sedang menyimpan luka yang bom waktu yang akan meledak di usia-usia remaja biasanya. Jadi mengkampanyekan ini supaya masyarakat lebih peduli, lebih mau berempati dengan perubahan-perubahan perilaku yang muncul di anaknya,” paparnya.

Sementara itu Ketua DPD Perpina Jawa Tengah, Ratnaning Dyah Rosalina Alba atau Rosi pada kesempatan sama mengatakan dalam Festival Difabel itu menghadirkan anak-anak yang menampilkan fashion show, dan menjadi MC, yang semuanya merupakan difabel.

Dengan kegiatan kata dia pihak ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa Difabel itu bukan warga negara kelas dua. “Mereka juga punya potensi, mereka berdaya sama dengan kita yang normal, tapi mereka punya potensi, kreasi yang punya prestasi,” ujarnya.

Bahkan tambah dia saat ini negarapun sudah memberikan kesempatan dan bahkan setiap perusahaan minimal 1% harus mempekerjakan difabel, sehingga difabel untuk menjadi warga lainnya yang normal bisa di fasilitasi dengan baik. “Mereka (difabel-red) bisa tumbuh sana dengan mereka yang normal ditengah keterbatasan yang dimiliki,” tuturnya. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *