Oleh:
Dr. Purwanto Yudhonagoro, S.E., M.Par., CHA.
Akademisi dan Pelaku Usaha Pariwisata
Solo Raya kembali menunjukkan geliat ekonominya melalui gelaran Solo Raya Great Sale (SRGS)—sebuah ajang promosi tahunan yang tak hanya meramaikan sektor perdagangan, tetapi juga memberi angin segar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Solo dan wilayah sekitarnya. Di tengah tantangan ekonomi global dan nasional, SRGS hadir sebagai contoh nyata bagaimana semangat gotong royong dan kekuatan aglomerasi ekonomi mampu menggerakkan roda ekonomi lokal secara inklusif dan berkelanjutan.
SRGS Lebih dari Sekadar Ajang Diskon
Sejak pertama kali digelar, SRGS telah berkembang menjadi platform kolaboratif lintas sektor yang menyatukan pelaku usaha besar, UMKM, perbankan, pemerintah, dan masyarakat. Diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan, toko retail, kafe, restoran, hingga pasar tradisional hanyalah salah satu wajah dari SRGS. Di balik itu, tersembunyi sebuah ekosistem ekonomi lokal yang terus bertumbuh melalui sinergi yang kuat.
Bagi UMKM, SRGS adalah peluang langka untuk naik panggung. Di luar masa-masa promo, tidak semua UMKM punya akses untuk menjangkau konsumen luas, apalagi bersaing dengan pelaku usaha berskala besar. Namun dalam kerangka SRGS, mereka mendapat dukungan promosi, pelatihan pemasaran, hingga kemudahan akses pembiayaan. Dampaknya nyata: peningkatan penjualan, perluasan pasar, dan tumbuhnya kepercayaan diri pelaku usaha lokal.
Gotong Royong: Kunci Keberhasilan Ekonomi Rakyat
Semangat gotong royong, warisan luhur budaya Jawa dan bangsa Indonesia, menjadi fondasi utama dalam penyelenggaraan SRGS. Pemerintah kota, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), pelaku sektor pariwisata, komunitas kreatif, media, dan masyarakat bersatu padu menyukseskan agenda ini. UMKM tidak dibiarkan berjalan sendiri, melainkan dibimbing dan difasilitasi agar mampu bersaing secara sehat dan merata.
Model kolaboratif seperti ini terbukti efektif. Dalam SRGS, tidak ada dikotomi antara usaha besar dan kecil. Semua mendapat tempat, semua diajak berkontribusi. SRGS dengan demikian bukan hanya soal transaksi ekonomi, melainkan juga tentang membangun solidaritas dan rasa memiliki terhadap kemajuan daerah.
Aglomerasi Solo Raya: Kekuatan Kolektif yang Menguntungkan UMKM
Kawasan Solo Raya, yang mencakup Kota Surakarta dan enam kabupaten di sekitarnya—Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Klaten, Sragen, dan Wonogiri—memiliki posisi strategis dalam peta ekonomi Jawa Tengah. Melalui SRGS, kekuatan wilayah ini dimaksimalkan dalam bentuk aglomerasi ekonomi: konsentrasi dan keterhubungan pelaku usaha dalam satu kawasan yang saling menguatkan.
Ketika UMKM dari berbagai daerah saling terhubung dalam satu platform promosi bersama, potensi kolaborasi antarwilayah tumbuh secara alami. Pengrajin batik dari Laweyan bisa bermitra dengan pelaku wisata di Karanganyar, atau UMKM kuliner dari Boyolali bisa menembus pasar Solo dengan dukungan logistik dari Sragen. Hubungan semacam ini memperkuat rantai pasok, memperluas jaringan distribusi, dan menumbuhkan daya saing kolektif.
Mendorong Transformasi UMKM di Era Digital
Salah satu capaian penting dari SRGS adalah dorongan terhadap digitalisasi UMKM. Banyak pelaku usaha yang selama ini hanya mengandalkan penjualan offline mulai terdorong untuk memanfaatkan media sosial, platform marketplace, dan sistem pembayaran non-tunai. Dalam era yang serba cepat ini, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak agar UMKM tetap relevan dan berdaya saing.
Pemerintah daerah dan mitra swasta dalam SRGS telah mengambil langkah progresif dengan menyediakan pelatihan, pendampingan, dan infrastruktur digital yang mendukung. Ini merupakan bentuk investasi jangka panjang dalam membangun ketangguhan UMKM menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
Penutup: SRGS sebagai Simbol Ekonomi Berbasis Kebersamaan
SRGS adalah bukti bahwa kebangkitan ekonomi daerah dapat dicapai melalui kerja sama dan kepercayaan. Ia bukan sekadar acara tahunan, tetapi sebuah gerakan ekonomi rakyat yang berbasis nilai-nilai lokal: gotong royong, solidaritas, dan kolaborasi antarsektor.
Ditambah lagi, adanya dukungan langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi dengan menyemarakkan semangat kegotongroyongan dan aglomerasi Solo Raya dengan koordinasi langsung kepada para Bupati dan Walikota se-Solo Raya. Sudah saatnya pendekatan seperti SRGS menjadi model nasional dalam pemberdayaan UMKM. Program ini harus terus dijaga, ditingkatkan, dan diperluas agar manfaatnya semakin merata. Jika Solo Raya bisa melakukannya, daerah lain pun bisa mengambil pelajaran berharga dari sini.
UMKM adalah tulang punggung ekonomi bangsa. Melalui SRGS, mereka mendapat panggung untuk tumbuh, berkembang, dan memberi kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat gotong royong dan kekuatan aglomerasi, Solo Raya telah membuktikan bahwa ekonomi rakyat bisa menjadi kekuatan besar jika digerakkan bersama-sama.(*/Oe)














Komentar