INDONNESIANEWS+Ngemplak, Boyolali)– Langit di persawahan area Car Free Day Desa Pandeyan, Ngemplak, Boyolali dipenuhi ratusan layang-layang warna-warni dalam Kopdar (kopi darat) Akhir Musim, Minggu (11-10-2026).
Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB itu berlangsung hingga malam hari, menampilkan berbagai jenis layangan mulai dari tradisional motif, janggan, layang naga puluhan meter, hingga layangan 3D karakter paus orca, gurita dan ikan.
Antusiasme warga terlihat sangat tinggi, mulai dari anak-anak hingga dewasa tumpah ruah di area persawahan untuk menyaksikan layangan naga raksasa yang menjulang tinggi menghiasi langit.
Kemeriahan berlanjut hingga malam hari dengan penerbangan layang-layang berlampu yang menyala indah, menambah keunikan dan daya tarik kopdar akhir musim ini.
Mengusung tema _”Ngawiji dadi Siji Sedulun Saklawase”_, kopdar ini menjadi penutup manis musim layangan 2026 sekaligus ajang silaturahmi para pecinta layang-layang.

Menurut Ketua Panitia Kopdar Layang-layang Ketut Suwarna didampingi Koordinator Lapangan Harno, kegiatan itu digelar untuk melestarikan layang-layang sebagai warisan budaya.
“Kami ingin layang-layang tetap lestari sebagai permainan tradisional yang penuh filosofi, mengajarkan kreativitas dan kebersamaan, jangan sampai tergerus oleh gadget,” tutur Ketut.
Selain itu, kata dia, kegiatan ini juga bertujuan untuk membantu menggerakkan ekonomi para pedagang UMKM di sekitar lokasi CFD Pandeyan.
Untuk peserta sendiri ada ratusan, dimana untuk jenis tradisional (bapangan) sekitar 50 peserta, jenis naga sekitar 20 peserta, dan jenis kreasi 3 tim. “Peserta berasal dari Solo Raya, seperti Sragen, Klaten, Boyolali dan lainnya,” tuturnya.
Menurut peserta lain Bagas, asal Sragen, yang mengaku sering mengikuti kejuaraan layang-layang di Solo Raya, dalam kesempatan itu ia menerbangkan layang-layang jenis naga yang panjangnya sekitar 80 meter.

Untuk membuat layang-layang jenis itu ia mengaku rela menghabiskan uang sebesar 4 juta lebih. Uang itu dipakai untuk membeli alat-alat yang dibutuhkan seperti kain parasut, rangka fiber, tali tambang khusus, biaya menjahit, lem dan lainnya. “Ya besar biaya pembuatannya tapi karena sudah hobbi ngga kerasa,” ujarnya.
Untuk menerbangkan layang-layang tersebut, tambah dia, dibutuhkan sedikitnya 4 orang dewasa karena tarikannya sangat kuat. Bahkan saking kuatnya, layang-layang itu bisa mengangkat seorang anak kecil beberapa meter dari tanah saat angin kencang berhembus.
Acara itu juga dimanfaatkan sejumlah UMKM yang khusus menjual layang-layang untuk menjual layangan buatannya. Mereka mematok harga bervariasi mulai Rp 10 ribu hingga Rp 65 ribu, tergantung ukuran dan motifnya.
Menurut Kepala Desa Pandeyan, Dwi Purboyono, S.H., M.H., pihaknya sangat mendukung kegiatan positif tersebut karena bisa mendongkrak potensi desa dan menjadi daya tarik wisata baru.
“Kegiatan seperti ini sangat bagus untuk mengembangkan Desa Pandeyan. Selain melestarikan budaya, CFD kami jadi semakin dikenal luas, UMKM warga hidup, dan bisa menjadi agenda wisata tahunan desa,” pungkasnya. (Oe)








Komentar