oleh

Prosesi Jumenengan Pakubuwono XIV Digelar di Tengah Suasana Duka, Keraton Surakarta Gelar Upacara Adat Sakral

-Daerah-391 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare atau prosesi kenaikan takhta Sinuhun Pakubuwono XIV pada Sabtu siang. Upacara adat sakral ini berlangsung tak lama setelah wafatnya Pakubuwono XIII pada 2 November 2025, dan dilaksanakan dalam suasana berkabung.

Prosesi dimulai dari Ndalem Prabasuyasa, tempat jenazah PB XIII sebelumnya disemayamkan. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro lebih dulu melakukan deklarasi awal kenaikan takhta di hadapan jenazah sang ayah, sebelum resmi dinobatkan sebagai Sinuhun Pakubuwono XIV.

Keraton menyiapkan rangkaian upacara adat lengkap dengan kehadiran sentana, abdi dalem, serta tokoh-tokoh penting seperti Sultan Hamengkubuwono X dan Presiden Joko Widodo yang dikabarkan turut diundang.

Prosesi berlanjut menuju Kori Kamandungan dan mencapai puncaknya di Siti Hinggil atau Bangsal Manguntur Tangkil. Di tempat inilah Pakubuwono XIV mengucap sabda dalem atau ikrar sumpah sebagai raja dengan gelar lengkap “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIV”.

Usai pengucapan ikrar, PB XIV melanjutkan ritual di Bangsal Pengrawit dengan berdiri di atas batu Selo Gilang, tempat yang secara turun temurun dipercaya sebagai kursi Prabu Soeryo Wiseso dari Kerajaan Jenggala. Di lokasi ini beliau membacakan Sholawat Jibril.

Sebagai tradisi penutup, dilaksanakan kirab menggunakan Kereta Kencana Garudo Kencono dengan delapan penarik kuda, diiringi barisan marching band, prajurit tradisional bergodo, keluarga keraton, serta para abdi dalem. Kereta tersebut merupakan kendaraan raja-raja Surakarta terdahulu pada upacara adat kerajaan.

Meski rangkaian jumenengan berlangsung khidmat, namun berbagai simbol adat seperti tari Bedhaya Ketawang tidak ditampilkan karena masih dalam masa duka, sesuai paugeran (aturan adat keraton).

Putri sulung PB XIII, GKR Timor Rumbai, menyebut momentum ini sebagai proses sah dan sesuai tradisi seperti pada masa PB IX dan PB X.

“Harapannya ini menjadi momen untuk Keraton Surakarta ke depan. Sangat sesuai dengan paugeran. Dalam ikrar itu Sinuhun berjanji untuk membawa keraton lebih baik dan tetap bersama negara Indonesia,” ujarnya.

Suksesi ini sempat diwarnai dinamika internal karena adanya klaim takhta ganda dari pihak lain yang juga mendeklarasikan diri sebagai PB XIV. Namun pihak Keraton menyatakan prosesi jumenengan ini sah secara adat dan berlangsung sesuai tradisi. (Bud)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *