INDONNESIANEWS (Solo)– RI Pro 1 Surakarta bersama Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar program Obrolan Komunitas bertajuk “Makna Asrul Sani bagi Indonesia”. Kegiatan ini digelar untuk memperingati 100 tahun kelahiran sastrawan dan sineas nasional Asrul Sani 1926–2026.
Acara berlangsung pada Kamis malam, pukul 20.00–21.00 WIB, dan disiarkan langsung melalui RRI Pro 1 Surakarta 101 FM, aplikasi RRI Digital, serta kanal media sosial RRI Surakarta.
Ketua Manasa Solo sekaligus dosen Sastra Indonesia UNS, Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A., mengatakan peringatan seabad Asrul Sani menjadi momen penting untuk merenungkan kembali peran kebudayaan dalam membentuk identitas dan kesadaran berbangsa.
“Warisan terbesar Asrul Sani bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga cara pandangnya tentang hubungan manusia, budaya, dan bangsa. Gagasan tentang humanisme, kebebasan berkesenian, dan tanggung jawab moral seorang seniman masih sangat relevan sampai sekarang,” ujarnya.
Menurut Asep, Asrul Sani adalah tokoh sentral yang menjembatani sastra, sinema, dan politik kebudayaan Indonesia. Sebagai pelopor Angkatan ’45, ia meninggalkan sejumlah karya monumental seperti Lewat Djam Malam, Pagar Kawat Berduri, dan Jenderal Nagabonar. “Lewat karya-karyanya, Asrul mengingatkan kita bahwa kebudayaan adalah ruang berpikir, berdialog, dan merumuskan masa depan bangsa,” tambahnya.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, yaitu Kaprodi Film dan Televisi ISI Surakarta Dwi Putri Nugrahaning Widhi, http://S.Sn., M.Sn., dosen ISI Surakarta Farhana Aulia, S.S., M.A., dan Anisa Putri Cahyani, http://S.Pd., http://M.Pd. Acara dipandu penyiar RRI Pro 1 Surakarta, Rifqi Minov.
Dalam forum tersebut dibahas berbagai aspek pemikiran Asrul Sani, mulai dari kontribusinya pada sastra dan perfilman nasional, perannya dalam politik kebudayaan, hingga relevansi pemikirannya bagi generasi muda saat ini.
Selain sebagai sastrawan dan penulis skenario, Asrul Sani juga dikenal sebagai salah satu pendiri Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta, serta tokoh yang konsisten memperjuangkan otonomi seni di tengah dinamika ideologi pada masanya.
Pihak RRI Pro 1 Surakarta menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga penyiaran publik dalam menyediakan ruang dialog untuk memperkuat literasi budaya masyarakat.
Melalui Obrolan Komunitas, masyarakat diajak tidak hanya mengenal Asrul Sani sebagai tokoh sejarah, tetapi juga memahami relevansi pemikirannya dalam menjawab tantangan Indonesia masa kini. “Peringatan seabad Asrul Sani mengingatkan kita bahwa kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan kekuatan yang terus membentuk masa depan bangsa,” kata Asep.
Selama siaran, publik juga diberi kesempatan berpartisipasi melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp. (*/Oe)








Komentar