INDONNESIANEWS (Solo)—Diduga depresi, seorang mahasiswi UNS, Solo, Jawa Tengah, terjun dari jembatan Jurug, dan tenggelam di sungai Bengawan Solo, Selasa (1-7-2025) siang kemarin.
Sampai Rabu (2-7-2025) siang, jenazah mahasiswi Vokasi UNS jurusan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), semester akhir, berinisial DSA (22) belum juga ditemukan, oleh Tim SAR Solo, yang melakukan pencaharian sesaat setelah peristiwa.
Menurut seorang anggota SAR Solo, Kholid, sampai pukul 11.30 WIB, Tim SAR yang melakukan pencaharian mulai dari lokasi terjunnya korban DSA menggunakan perahu karet belum juga menemukan jenazah korban. Selain dilokasi itu Tim SAR melakukan pencaharian dengan menyusuri sungai Bengawan Solo.
Kondisi air sungai Bengawan Solo yang tinggi dan keruh, menjadikan salah satu penyebab terkendalanya pencaharian. Penyelaman juga cukup berbahaya karena derasnya arus bawah air.
Dalam rilis resmi tertanggal 1 Juli 2025, pihak UNS melalui Sekretaris l,
Agus Riwanto, Sekretaris menyatakan bahwa DSA merupakan klien Subdirektorat Layanan Konseling Mahasiswa UNS sejak Januari 2025.
“Peristiwa ini tidak berkaitan dengan proses pembelajaran di kampus, melainkan murni akibat kondisi gangguan kejiwaan yang dialami,” ujar Agus Riwanto.
DSA disebut tambah dia telah menyampaikan secara terbuka kepada kampus bahwa ia memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri sejak tahun 2023.
Dalam catatan layanan konseling, DSA sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan overdosis obat, melukai diri sendiri, dan pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa.
Ia juga telah direkomendasikan menjalani perawatan psikiater secara berkelanjutan hingga sebelum peristiwa nahas ini terjadi.
Surat wasiat korban
Surat wasiat yang ditulis tangan ditemukan di lokasi kejadian turut memperkuat dugaan bahwa DSA tengah berada dalam kondisi mental yang sangat rapuh.
Dalam tulisan tangan tersebut, DSA meminta maaf kepada pihak keluarga dan kampus (pembimbing akademik)
“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.K.M. karena telah mengkhianati dan berjanji untuk bertahan… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu.” (Oe)














Komentar