INDONNESIANEWS (Klaten)–Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten serius menangani masalah hama tikus yang kerap menyerang tanaman padi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengintensifkan penggunaan Trap Barrier System (TBS).
Kepala DKPP Klaten, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa TBS merupakan salah satu metode pengendalian hama tikus yang efektif. “Pengendalian hama dilakukan dengan tiga metode; yaitu mekanis dengan gropyokan dan TBS, biologis dengan penyebaran predator alami tikus seperti burung hantu dan ular, serta kimia,” katanya.
Dengan TBS, petani dapat mengurangi kerugian akibat serangan hama tikus. Iwan menambahkan bahwa DKPP berencana memasukkan TBS dalam program perlindungan tanaman tahun depan.
Penerapan TBS di Klaten telah menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan pemantauan, dampak hama tikus lebih terkendali setelah penggunaan TBS.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, mengapresiasi langkah strategis DKPP dalam mengendalikan hama tikus. “TBS jauh lebih efektif dibanding gropyokan. Tidak perlu banyak orang, cukup pasang pagar fiber di jalur masuk,” ujarnya.
Ia berharap TBS dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Klaten. “Sudah terbukti efektif, ke depan akan kita sebarkan lebih masif,” katanya.
TBS juga dapat dibuat dengan biaya yang relatif murah. Iwan menjelaskan bahwa bubu dapat dibuat sederhana dengan memanfaatkan galon bekas agar lebih hemat.
Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan petani, diharapkan pertanian di Klaten dapat semakin maju dan produktif. Penerapan TBS di Klaten diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengendalikan hama tikus. (Oe)













Komentar