oleh

BNN RI Kunjungi Desa Ponggok, Sinergi Pemberantasan Narkoba dari Desa hingga Nasional

INDONNESIANEWS (Klaten)–Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Komjen Pol. Dr. Marthinus Hukom, S.I.K., (tautan tidak tersedia), melakukan kunjungan kerja ke Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari studi banding nasional untuk menggali praktik baik dalam pemberdayaan masyarakat desa sebagai strategi pencegahan penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

Dalam sambutannya di Balai Desa Ponggok, Kepala BNN RI menegaskan bahwa pemberantasan narkoba membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan sebuah desa menjadi wilayah bersih dari narkoba berawal dari komitmen internal: “Komitmen ikatan batin dengan diri, dengan Tuhan, dan dengan masyarakat adalah fondasi untuk menjadikan sebuah wilayah bersih dari narkoba,” ujarnya.

Marthinus menyampaikan bahwa strategi utama BNN saat ini adalah kolaborasi, sekalipun di tengah keterbatasan anggaran. Ia juga mengapresiasi kemampuan Desa Ponggok dalam mengembangkan potensi lokal secara kreatif. “Kepala desa harus memiliki tiga hal: power sebagai pemimpin, konsep dalam mengelola masalah, dan kemampuan membangun kepercayaan masyarakat. Ini semua terlihat di Desa Ponggok,” tambahnya.

BNN melihat bahwa problematika narkotika menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk nelayan dan petani. Oleh karena itu, penguatan individu dan pembangunan manusia menjadi sangat penting. “Ketika kita membangun manusia, maka ada godaan yang merusak—salah satunya narkoba. Mari kita sukseskan visi-misi Presiden melalui pembangunan individu yang kuat, penuh kasih sayang, dan saling menghormati,” tegasnya.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom., menyatakan apresiasinya atas dipilihnya Desa Ponggok sebagai lokasi studi banding nasional. “Desa Ponggok adalah kebanggaan Klaten. Potensinya luar biasa, BUMDes-nya selalu juara, dan kami berkomitmen menjadikannya sebagai desa bebas narkoba,” ujar Bupati.

Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah, Brigjen Pol. Dr. H. Agus Rohmat, S.I.K., S.H., M.Hum., menekankan pentingnya mengintegrasikan pendekatan P4GN dalam pembangunan desa. “Kami akan menjadikan Desa Ponggok sebagai model percontohan. Sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan dunia usaha seperti ini adalah kunci untuk menciptakan ketahanan sosial terhadap narkoba,” ungkapnya.

Desa Ponggok akan dijadikan sebagai laboratorium praktik baik. Sinergi antara pemimpin desa, masyarakat, dan dunia usaha seperti ini adalah teladan. Ini bukan tentang BNN saja, tapi tentang kita semua.

Kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif, kunjungan ke BUMDes dan destinasi wisata lokal seperti Umbul Ponggok dan Koperasi Merah Putih, serta pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh penggiat P4GN.

BNN berharap bahwa hasil dari studi banding ini dapat direplikasi ke desa-desa lain di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah rawan narkoba, sebagai bagian dari transformasi desa menuju kemandirian dan ketahanan terhadap ancaman narkotika.

Kunjungan ini menjadi simbol bahwa pemberantasan narkoba tidak cukup dilakukan secara birokratis dari atas, tetapi harus dibangun dari bawah – dari desa, dari keluarga, dari individu.

Semangat kolaborasi yang digaungkan BNN sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terutama dalam pencegahan narkoba demi membangun sumber daya manusia unggul, desa mandiri, dan bangsa yang berdaulat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *