INDONNESIANEWS (Solo)–Sumari(60) ditemukan meninggal dunia di atas becaknya pada Jumat malam, 29 Agustus lalu. Pria asal Pacitan itu mengembuskan napas terakhirnya saat beristirahat di sisi barat pintu utama pasar, tempat yang hampir setiap malam menjadi “rumah” sementaranya.
“Masih terasa sekali kehilangan ini. Sore itu beliau masih ngobrol sama kami. Nggak kelihatan sakit atau apa. Tahu-tahu malamnya sudah nggak ada,” ujar Suyatno, sesama tukang becak yang biasa mangkal di pintu timur pasar.
Menurut keterangan rekan-rekannya, Sumari memang sudah lama mengidap sakit di bagian dada. Namun, pria yang dikenal ringan tangan itu tetap memaksakan diri bekerja. Ia ingin terus mengayuh becak demi bisa mengirim uang ke keluarganya di kampung halaman.
“Beliau itu orangnya pekerja keras. Nggak pernah mengeluh. Kalau capek, ya istirahat sebentar di becaknya. Nggak pernah mau merepotkan orang lain,” kenang Tugiman, yang mengenal almarhum lebih dari 10 tahun.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sumari dikenal murah senyum dan suka berbagi. Ia sering kali menghibur teman-temannya dengan candaan ringan, bahkan rela membantu pedagang di pasar tanpa diminta.
“Kadang kalau punya rejeki lebih, malah traktir kopi. Padahal kami tahu sendiri, beliau juga serba pas-pasan. Tapi hatinya besar,” lanjut Tugiman, suaranya parau.
Para pedagang pun merasakan kehilangan yang sama. Agus, pedagang buah di Pasar Gede, mengaku kaget saat tahu tempat biasa Sumari duduk kini kosong.
“Biasanya pagi-pagi sudah kelihatan beliau bersih-bersih becak, senyum, nyapa kami satu per satu. Sekarang sepi. Rasanya beda,” ucapnya lirih.
Jenazah Sumari telah dipulangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Pacitan. Namun kenangan tentangnya akan tetap hidup, di antara roda-roda becak yang terus berputar, dan di hati mereka yang pernah merasakan kebaikan pria sederhana itu. (Bud)








Komentar