INDONNESIANEWS (Semarang,-Jateng)– Menurut Budayawan Jawa Tengah, Budiyanto Hadinagoro bahwa penyebutan nama Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Provinsi Jawa Tengah, Zulkifli Gayo, dalam sidang perkara dugaan korupsi mantan Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu alias Mbak Ita, merupakan pembunuhan karakter.
Menurutnya, penyebutan nama Zulkifli Gayo dalam ruang sidang tidak boleh dibiarkan menjadi bola liar tanpa dasar hukum yang sah.
“Pak Zulkifli bukan tersangka, bukan saksi, tapi sudah disebut-sebut dalam sidang seolah pelaku. Ini bisa masuk ranah pembunuhan karakter,” tegasnya, Kamis (17-7-2025).
Ia menambahkan, membawa nama pejabat aktif tanpa keterlibatan hukum yang jelas berisiko merusak reputasi lembaga yang dipimpinnya, apalagi Zulkifli kini menjabat sebagai ketua tim yang strategis untuk pembangunan Jawa Tengah. Lebih lanjut, Budiyanto menilai perlu kejelasan konteks waktu.
Menurutnya, tudingan itu harus melihat esensinya dimana saat itu Zulkifli bekerja sebagai konsultan yang menaungi para peneliti dalam hal mengkaji secara ilmiah.
“Kalau memang ada pekerjaan proyek kajian yang dilakukan Zulkifli pada 2023, itu kan memang murni pekerjaan sebelumnya Zulkifli dibidang konsultan dan menaungi para peneliti. Kalau ditarik dalam hal dugaan korupsi terlalu melebar, pastinya format kerja samanya kan sesuai aturan yg ada,” urai Budiyanto.
Selain itu, Budiyanto hadinogoro mempertanyakan kredibilitas kesaksian yang disampaikan oleh Kepala Disbudpar Semarang, Wing Wiyarso, dalam sidang.
“Apa ada audit resmi yang membuktikan laporan kajian Pak Zulkifli buruk? Atau dokumen evaluasi yang sahih? Kesaksian Wing pun sudah dibantah langsung oleh Mbak Ita di persidangan. Artinya, ada versi yang saling berlawanan. Kita tidak boleh gegabah mengambil satu sisi sebagai kebenaran absolut,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan, menyeret nama Zulkifli tanpa verifikasi dapat menjadi gangguan serius terhadap kerja-kerja percepatan pembangunan di Jawa Tengah.
“TPPD itu tim teknokrat yang bertugas mengeksekusi program strategis daerah. Jangan sampai framing politik menghancurkan kerja institusi. Jangan-jangan ini ada pesanan khusus, untuk membuat program-program percepatan jalan di tempat?” tandasnya.
Sebagai informasi, Zulkifli Gayo merupakan akademisi dan berstatus sebagai dosen aktif ber-NIDN di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Semarang dan menjadi calon guru besar atau profesor di bidang ekonomi.
Berkarir di usia muda, ia sudah memiliki banyak usaha dengan payung Zuliya Consultant. Dirinya mendirikan usaha tersebut tahun 2017. Hebatnya, usaha yang ia jalani tidak terpengaruh Covid pada tahun 2020 hingga 2022 yang lalu. Zulia Consultant juga banyak mewadahi para peneliti dari kalangan kampus (para dosen).
Saat ini ia tercatat sebagai dosen aktif ber-NIDN di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Semarang dan menjadi calon guru besar atau profesor di bidang ekonomi. (Bud)








Komentar