oleh

Rahajeng Ratu Cantika, Alumni Animasi 3D SMK RUS Kudus Debut Layar Lebar di “Garuda di Dadaku

-Ragam-53 views

INDONESIANEWS (Solo)– Film animasi “Garuda di Dadaku” yang mulai tayang 11 Juni 2026 di seluruh bioskop tanah air, menjadi bukti nyata kemajuan industri animasi Indonesia. Di balik layar, lebih dari 500 insan kreatif dari berbagai divisi bekerja keras untuk mewujudkan karya anak bangsa ini.

Salah satu talenta muda yang turut ambil bagian adalah Rahajeng Ratu Cantika, 20 tahun, gadis asal Solo. Saat ini Ratu bekerja di Studio Brown Bag Film Bali dan dipercaya mengisi posisi Project Coordinator untuk film tersebut.

“Garuda di Dadaku” menjadi film layar lebar pertama bagi Ratu. Pengalaman ini menjadi tonggak penting dalam kariernya di dunia animasi profesional.

Film Animasi Garuda di dadaku

Nama Ratu Cantika tercantum jelas di credit title “Garuda di Dadaku”. Ia bersanding dengan puluhan rekan dari Brown Bag Film Bali serta tim dari berbagai divisi lain yang terlibat dalam produksi film layar lebar ini.

Bagi Ratu, debut di film layar lebar sebesar ini adalah pengalaman berharga. Sebagai Project Coordinator, tugasnya memastikan alur produksi berjalan sesuai timeline dan standar kualitas yang ditetapkan studio.

Ratu merupakan alumni SMK RUS Kudus, Jawa Tengah, jurusan Animasi 3D. Ilmu yang ia dapat di bangku sekolah menjadi bekal kuat untuk meniti karier di studio animasi kelas internasional.

Sebelum bergabung di Brown Bag Film Bali, Ratu sudah lebih dulu mengasah kemampuannya melalui film animasi tugas akhir saat masih duduk di SMK, sekitar 1 tahun lalu.

Film Animasi Nyla

Saat itu Ratu memilih divisi Project Coordinator dan dipercaya mengkoordinir 265 teman seangkatannya. Bersama-sama mereka menyelesaikan film animasi berdurasi 17 menit berjudul “Nyla”.

Proyek “Nyla” ini tergolong istimewa karena menggandeng JKT48 sebagai pengisi soundtrack. Lagu berjudul “Menggapai Puncak Dunia” karya Laleilmanino menjadi pengiring cerita gadis asal Sumba yang mengejar mimpinya.

Setelah proses produksi selama 1 tahun, “Nyla” kemudian tayang di channel YouTube RUS Animation Studio. Sambutan penonton cukup luar biasa.

“Alhamdulillah saat ini sudah ditonton sekitar 1,4 juta orang dengan 50 ribu like dan ribuan komentar positif,” cerita Ratu dengan wajah bangga.

Ratu dan ayahnya, Salahuddin

Menurut Ratu, ada benang merah antara “Nyla” dan “Garuda di Dadaku”. Keduanya sama-sama mengangkat tema sepak bola sebagai latar cerita utama dengan pesan semangat pantang menyerah.

Kedua film ini sama-sama berakhir mengharukan. Putra berhasil meraih mimpinya berkat dukungan burung Gaga, sedangkan Nyla akhirnya mendapat restu sang Ibu untuk berjuang di lapangan hijau.

Ratu berharap debut layar lebarnya di “Garuda di Dadaku” menjadi langkah awal untuk terus berkarya. Ia sendiri memiliki cita-cita hingga menjadi produser di film animasi dan terus mewarnai dunia animasi Indonesia.

Pesan Ratu untuk adik-adik jurusan Animasi 3D dan generasi muda Solo sederhana: berani bermimpi besar dan jangan takut mencoba. “Peluang di dunia kreatif sekarang terbuka lebar bagi siapa saja yang mau kerja keras dan konsisten,” pungkasnya. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *