oleh

Dari Pemburu Mayat ke Pemred: Oedin dan 32 Tahun Jadi Wartawan

-Ragam-112 views

INDONNESIANEWS (Solo)–Selama 16 tahun jadi koresponden tvOne, Salahuddin ikut meliput Jokowi dari Solo sampai jadi Presiden. Tahun 2018 dia resign, lalu balik jadi Pemred di media online miliknya.

Oedin, panggilan akrabnya, lahir di Lampung. Sejak kecil sudah kritis. Nonton TVRI dia sering protes, “Beritanya kok gitu-gitu aja?”

Tamat SMA, Oedin kuliah di Yogyakarta. Tahun 1992 dia ikut bikin Lembaga Pers Mahasiswa Cakrawala di Universitas Mercu Buana. Mulai dari staf redaksi, akhirnya naik jadi Pemimpin Redaksi saat masih umur 20-an.

Oedin lahir 4 Desember 1972 di Totokaton, Lampung Tengah. Anak ke-3 dari 6 bersaudara. Jadi Pemred muda itu susah. Rapat sampai malam, dikejar deadline, kadang bolos kuliah. Tapi karena pernah jadi staf, Oedin paham kerja tim di lapangan.

Oedin dalam momen liputan di DI Yogyakarta

Selain di pers kampus, Oedin juga jadi koresponden Lampung Post untuk wilayah Jogja. Lulus kuliah, dia resmi kerja di Lampung Post. *Selama 8 tahun* di sana, Oedin liputan kriminal, politik, sampai bencana. Itu kerjaan tiap hari.

Tahun 2002, Oedin pindah ke TV. Dia resign dari koran dan masuk Lativi, lalu jadi tvOne. Di Lativi dia dijuluki “wartawan pemburu mayat” karena sering liputan kasus jenazah di forensik RS UNS Solo.

Dari 2002 sampai 2018, Oedin jadi koresponden tvOne Solo Raya. Dulu kerja wartawan TV berat. Kamera besar, kaset VHS harus buru-buru dikirim ke Bandara Solo biar masuk cargo ke Jakarta. Telat dikit, berita gagal tayang. Setelah ada SD Card, semua lebih gampang. Bisa kirim lewat internet.

Di masa itu Oedin rutin liputan Jokowi sejak Wali Kota Solo. Dia ikut saat Jokowi blusukan ke Pasar Klewer subuh-subuh, sampai daftar Gubernur DKI. Dia rekam semua, dari Jokowi naik sepeda onthel sampai dilantik jadi Presiden.

Bersama reporter tvOne biro Yogya, Danita Riadini, dalam momen liputan di DI Yogyakarta

Liputan demo, sidang, gempa Jogja 2006, sampai erupsi Merapi semua pernah. Tasnya dulu isi kaset VHS, sekarang isi SD Card dan buku catatan. Prinsip Oedin: wartawan harus ada di lokasi.

Tahun 2018, Oedin keluar dari tvOne. Dia bikin media online dan balik jadi Pemred. Karirnya jadi satu lingkaran: dari ngetik pakai mesin tik di kampus, bawa kaset VHS ke bandara, sekarang kerja pakai komputer. Alatnya beda, tapi naluri beritanya sama: cepat dan akurat.

Oedin punya dua anak. Satria Panji Gumilang kerja di perusahaan Jepang di Bekasi. Rahajeng Ratu Cantika kerja di Brown Bag Films Bali sebagai Koordinator Produksi animasi. Dulu Oedin kejar pesawat, sekarang kejar berita online.

Ditanya kenapa pilih media online, jawabnya: “Faktor usia. Media online lebih santai, nggak harus selalu ke lapangan.” Wartawan nggak pensiun. Cuma ganti cara kerja: dulu kirim kaset VHS ke bandara, sekarang pantau berita dari meja redaksi. (ratu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *