INDONNESIANEWS (Klaten)–Kompleks Masjid Raya Klaten dipadati ratusan anak peserta khitanan massal, Kamis 25-6-2026. Kegiatan ini menjadi program perdana Baznas Klaten tahun 2026 yang dananya berasal dari infak Ramadan.
Kepala Baznas Klaten, KH Muchlis Hudaf, menyampaikan total 220 anak bergabung dalam khitanan massal kali ini. Dana terkumpul Rp131.560.000 dari berbagai pihak, mulai ASN, BUMD, dinas vertikal, TNI-Polri, perusahaan swasta, hingga masyarakat umum Kabupaten Klaten.
“Alhamdulillah pada kali ini ada 220 anak yang bergabung dengan Baznas dalam pelaksanaan khitanan massal perdana dari entok Ramadan 2026,” ujar KH Muchlis Hudaf.
Setiap anak peserta mendapatkan paket lengkap berupa biaya tindakan medis senilai Rp300.000, baju koko, peci, sarung, uang saku Rp100.000, dan sertifikat. Baznas menggandeng tenaga medis dari 3 rumah sakit: RS Batas Waras, RSUD Dr. Suraji Tirtonegoro, dan RSU Islam Klaten.
KH Muchlis juga mengapresiasi para donatur yang berpartisipasi. Total donasi yang masuk Rp16.500.000 dari Lazismu Rp3 juta, Lazisnu Rp1 juta, DSA Rp1 juta, Koperasi Batujaya Rp5 juta, KSPS Karena Aneka Jasa Rp2 juta, BMT Sari Rp1 juta, Bank Jateng Syariah Rp500.000, dan PP RS Dharmawira Rp500.000.
“Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada para donatur. Zakatmu sungguh berharga, membuat kami bahagia. Walau awalnya sedikit, lama-lama menjadi bukit,” tuturnya.
Ia berharap Baznas Klaten terus mendapat kepercayaan masyarakat agar perolehan zakat infak sedekah semakin meningkat. Tujuannya untuk mengurangi kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat Klaten.
Peserta Akui Sempat Takut, Namun Memberanikan Diri
Antusiasme peserta terlihat dari pengakuan dua anak yang mengikuti khitan. Bisma, 10 tahun, warga Klaten Kota menuturkan dirinya sengaja ikut khitanan massal untuk mengisi waktu liburan dan murni atas keinginan sendiri. Ia mengaku awalnya merasa takut saat akan dikhitan, namun akhirnya memberanikan diri.
Hal serupa diungkapkan Latif, 12 tahun, warga Karangdowo. Ia datang ke lokasi juga atas kemauannya sendiri. “Awalnya takut, tapi memberanikan diri untuk mengikuti khitanan massal,” katanya. (Oe)








Komentar