oleh

Begini Kreatifnya Murid Kelas IV SD Islam Terpadu Nur Hidayah Solo Membuat Lilin dari Minyak Jelantah

INDONNESIANEWS (Solo)– Minyak jelantah ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat lilin. Itulah yang dilakukan oleh 112 murid-murid kelas IV SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, Rabu (08/03) siang di selasar teras ruang kelas.

Kegiatan yang terbilang kreatif itu dilaksanakan dalam P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Masih dalam bingkai tema Peduli Terhadap Lingkungan. Dalam hal ini memanfaatkan limbah rumah tangga berupa minyak jelantah untuk membuat lilin.

Salah satu murid kelas IV C, Alesya Nasyeed Karimah (10) menyampaikan rasa senangnya ikut praktik memuat lilin.

“Seru dapat membuat lilin bersama teman sekelompok. Alat dan bahannya sebagian dibawa dari rumah. Ada yang membawa kompor portabel, pan, irus, sumpit, koran bekas, gelas sloky, minyak jelantah, krayon bekas yang sudah ditumbuk, bubuk stearin, dan minyak aroma terapi” tutur Alesya.

“Belum pernah membuat sebelumnya. Ini pengalaman pertama bagiku dalam membuat lilin. Awalnya ragu, antara jadi atau tidak. Ternyata jadi, saya sangat senang. Teman-teman sekelompokku juga senang,” terang murid yang dipanggil Echa.

Setelah berhasil mempraktikkan membuat lilin, salah satu murid kelas IV lainnya, Ghazi Arkan Fayzulhaq (10) menceritakan langkah-langkah dalam membuat lilin dari bahan bekas minyak goreng yang lebih dikenal dengan sebutan minyak jelantah.

“Setelah alat dan bahan siap semua, langkah pertama rebus minyak jelantah sebanyak 300 ml hingga panas di atas kompor portabel yang nyala apinya kecil. Kedua, masukkan bubuk krayon ke dalam pan, lalu diaduk sampai larut dengan minyak jelantah,” terang Ghazi.

“Langkah ketiga, masukkan bubuk stearin sebanyak 100gr ke dalam pan lalu diaduk lagi. Keempat, masukkan minyak aroma terapi ke dalam pan, lalu diaduk lagi. Langkah terakhir, tuangkan adonan lilin ke dalam gelas sloky yang sudah diberi sumbu di bagian tengahnya,” terang murid yang bercita-cita menjadi Programer itu.

“Tunggu hingga adonan menjadi dingin dan mengeras, lalu dapat di lepas dari gelasnya. Lilin dapat dipakai saat mati lampu untuk menerangi ruangan supaya tidak gelap,” pungkas Ghazi.

Salah satu guru kelas IV, Bekti Riyanto, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan praktik ini dalam rangka terus menguatkan pemahaman dan penerapan karakter peduli lingkungan.

“Pemanfaatan limbah rumah tangga, berupa minyak jelantah, dapat mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, kami mengajarkan dan mengajak murid-murid untuk kreatif memanfaatkan limbah tersebut menjadi barang yang bernilai jual,” tutur guru yang menjadi Pengajar Praktik dalam Program Guru Penggerak Kemendikbud.

Waka Humas SD Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta, Rahmat Hariyadi, S.Pd. yang ikut mendampingi kegiatan tersebut mengapreasi kepedulian dan kreativitas guru dan murid.

“Kegiatan P5 memang mampu menjadi sarana dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Mereka diajak berpikir kritis, bagaimana limbah rumah tangga dapat diolah menjadi barang berguna. Mereka kreatif membuat barang tersebut secara bergotong royong dalam kelompok. Tentu mensyukuri karunia akal dan kekayaan alam untuk menjadikan setiap tantangan menjadi peluang,” tutur Rahmat. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *