oleh

Di picu Uang Retribusi 2 kelompok Terlihat Adu Jotos di depan Asrama Haji Donohudan Boyolali

INDONNESIANEWS (Boyolali)–Setelah 2 tahun tanpa aktifitas akibat di tutupnya pelaksanaan ibadah haji oleh pemerintah Arab Saudi namun tahun 2022 ini ibadah haji kembali di buka setelah berangsur angsur membaiknya situasi dan virus Corona bisa di tangani dan angja kematian oleh virus tersebut di dunia menurun drastis.

Kembali terbukanya Arab Saudi bagi umat muslim dunia untuk menunaikan rukun Islam ke 5 tersebut di sambut gembira oleh umat Islam di manapun termasuk Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia.

Aktifitas di berbagai daerah yang menjadi tempat pemberangkatan atau embarkasi haji pun kembali sibuk.

Seperti halnya Embarkasi SOC Solo aktifitas pemberangkatan calon jemaah haji di tempat ini sangat terlihat.

Calon jemaah haji dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta berdatangan ke Asrama Haji Donohudan Boyolali.

Ribuan jemaah haji tersebut memang harus transit terlebih dahulu di AHD untuk keperluan pemeriksaan surat menyurat, pemeriksaan kesehatan danblainnya.

Kemacetan Lalulintas di depan Asrama Haji Donohudan Boyolali. Foto oedin

Biasanya jemaah haji yang tiba menggunakan bus-bus dengan pengawalan dari petugas kepolisian dari tempat asalnya masing-masing.

Namun tentu saja musik haji selalu saja menimbulkan pernik-pernik positif dan negatif khususnya terhadap wilayah sekitar AHD

Sebelum di mulainya kembali AHD Boyolali sebagai lokasi pemusatan calon haji sebelum di berangkatkan dengan pesawat khusus ke Arab Saudi sepi.

Namun kini sejak memasuki bulan Mei lalu tiba-tiba daerah sekitar AHD baik di bagian depan dan sisi timur serta selatan tiba-ramai.

Banyak pedagang musiman muncul di 3 titik tersebut.

Menurut pengelola AHD Bambang Sumanto pihaknya memang memberikan izin (legalitas) ruang tunggu untuk pengantar haji di sisi selatan kepada pemerintah desa setempat untuk di kelola untuk kesejahteraan warga sekitar.

“kami berikan untuk di kelola dan hasilnya untuk kesejahteraan warga Donohudan”, ujarnya.

Ia sendiri mengakui pihaknya meminta dan telah menerima uang sebesar 3 juta dari pihak desa Donohudan dan telah di setor sebagai pendapatan daerah ke Pemprov Jateng.

Sementara itu menyangkut adanya keributan antara 2 kubu yaknj pemuda penarik retribusi dengan paguyuban pengelola pedagang di depan AHD Bambang Sumanto mengaku belum mengetahuinya.

Di akuinya pihaknya memberikan pengelolaan pedagang di depan AHD karena ada dari pihak warga sekitar (pengurus RW) meminta mengelola sisi utara AHD.

Meskipun daerah tersebut seharusnya steril dari pedagang pihaknya memberikan izin untuk di kelola agar ada yang mengatur pedagang dadakan, parkir dan lalu lintas sekitar.

Kemacetan lalu lintas di depan Asrama Haji Donohudan. Foto Oedin

Sementara itu kepala Desa Donohudan Rohmadi menyangkan adanya keributan. Menurutnya hal tersebut tidak akan terjadi bila sejak awal ada koordinasi antara pengelola dan pihak pemdes Donohudan.

Pemdes Donohudan tambah Rohmadi hanya di berikan kompensasi mengelola ruang tunggu di sisi selatan oleh pengelola AHD

“Setahu saya tempat yang legal hanya di tempat itu”, paparnya

Sehingga kalau kemudian muncul keributan di lokasi lain yakni lapak di depan Donohudan itu di luar tanggung jawab pemdes.

Ia sendiri mengaku merasa di remehkan dan di langkahi wewenangnya baik oleh pengelola AHD atau paguyuban RW sekitar karena tidak mengajak untuk membicarakan keberadaan pedagang di depan AHD “Apasih beratnya mengajak bicara dan kalaupun mereka (RW) meminta untuk mengelola pasti akan kami berikan sejauh hasilnya memang untuk kesejahteraan warga sekitar”, ujarnya.

Sehingga saat timbul masalah (keributan) pihaknya juga bisa mengambil langkah yang harus di tempuh agar tidak kembali terulang.

Iapun mengaku telah di minta keterangan oleh pihak kepolisian dalam hal ini Polsek Ngemplak terkait keributan 2 kubu. Iapun menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang.

Sementara itu dari pihak RW melalui Sekretarisnya Ribut mengakui saat pembentukan paguyuban mengundang sejumlah pihak seperti dari Polsek Ngemplak dan kecamatan.

Meskipun tanpa izin resmi dan tidak ada surat resmi dari Pengelola AHD pihaknya merasa sah untuk mengelola tempat tersebut dan tanpa memberitahu Pemdes Donohudan.

Terkait munculnya keributan yang menyebabkan ada korban dari pedagang dan pengurus paguyuban menurutnya sepenuhnya di serahkan kepada pihak kepolisian.

Sementara itu Kapolsek Ngemplak AKP Surjadi saat di konfirmasi terkait hal itu mengaku persoalan keributan yang melibatkan 2 kelompok bukan wewenangnya lagi karena sudah di serahkan ke Polres Boyolali..

“Kasus ditangani di polres ya” ujarnya dalam pesan singkat WhatsApp.

Keributan sendiri terjadi Selasa lalu (21/6/2022) saat 2 pemuda bermaksud meminta retribusi kebersihan kepada pedagang yang ada di depan AHD.

Namun pedagang yang di minat uang retribusi menolak dengan alasan telah membayar uang sewa termasuk uang kebersihan sebesar 330ribu kepada Paguyuban Pengelola.

Penolakan itulah kemudian yang menyebabkan kelompo pemuda dan paguyuban terlihat adu fisik. (Oe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *